Jakarta, MCNID.net--Perjalanan sebuah usaha sering kali berawal dari niat sederhana dan keberanian untuk mengambil langkah pertama. Hal inilah yang dibuktikan oleh Ibu Yana, pendiri Alfriandra Souvenir, penyedia souvenir pernikahan asal Jakarta yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari dua dekade.


Memulai usahanya pada tahun 1997, Ibu Yana hanya mengandalkan modal awal sebesar Rp7 juta. Kala itu, ia memproduksi gantungan kunci berbahan resin dari skala rumahan. Namun, bagi Ibu Yana, keterbatasan modal awal bukan halangan untuk bermimpi besar.


"Awalnya saya hanya bermodal nekat karena ingin menjadi orang yang sukses dan bermanfaat untuk sesama. Bagi saya, usaha yang berhasil adalah usaha yang bisa memberikan pekerjaan bagi banyak orang dan produknya disukai pelanggan," ujar Ibu Yana dikutip dari laman resmi BSI, Rabu (29/7/2026). 


Prinsip kebermanfaatan itu terbukti menjadi fondasi kuat. Kini, Alfriandra Souvenir telah tumbuh menjadi salah satu pelaku UMKM yang berhasil naik kelas. Untuk menjaga kualitas produk dan standar pengelolaan, seluruh rantai produksi, mulai dari penerimaan pesanan, percetakan, sablon, hingga pengemasan, tetap dikelola secara mandiri dengan konsep home industry.


Pertumbuhan Alfriandra Souvenir tak lepas dari konsistensi, inovasi, serta akses pembiayaan yang tepat. Mengawali kemitraan perbankan sebagai nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah di PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), kini Alfriandra Souvenir telah berhasil bertransformasi dan melesat ke segmen Small and Medium Enterprise (SME) BSI.


Dukungan pembiayaan syariah ini memungkinkannya memperluas kapasitas produksi, yang berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitarnya.


Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan bahwa kisah Alfriandra Souvenir merupakan cerminan dari komitmen BSI dalam mendukung sektor pro-kerakyatan. BSI terus mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah agar mampu mandiri dan membuka lebih banyak lapangan kerja.


"Kelas usaha kecil dan menengah ini menjadi salah satu yang dibidik karena potensi mereka sangat besar jika dibina dan diberikan akses pembiayaan yang tepat," ungkap Kemas.


Hingga Mei 2026, BSI mencatat pertumbuhan pembiayaan segmen SME sebesar 19 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp26,15 triliun, dengan total nasabah UMKM mencapai lebih dari 342 ribu pelaku usaha di seluruh Indonesia.


Kisah Ibu Yana bersama Alfriandra Souvenir menjadi bukti nyata bahwa dengan ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan kemitraan pembiayaan yang pas, usaha berbasis rumahan pun mampu menjelma menjadi motor penggerak ekonomi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.