Surabaya, MCNID.net--Bandara Internasional Dhoho Kediri bersiap mengambil peran besar dalam peta transportasi spiritual Jawa Timur. Bandara baru kebanggaan masyarakat Mataraman ini diproyeksikan bakal melayani sedikitnya 10.548 jamaah haji pada musim penyeleggaraan ibadah haji 1448 H / 2027 M mendatang.


Langkah strategis ini mulai dimatangkan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) di tengah fase akhir proses pemulangan jamaah haji tahun 1447 H / 2026 M. Pembahasan mengenai kesiapan Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji baru tersebut digelar dalam Rapat Koordinasi di Asrama Haji Kelas I Surabaya, Rabu (1/7/2026).


Menteri Haji dan Umrah RI, Moch. Irfan Yusuf, menegaskan bahwa penyiapan Embarkasi Dhoho Kediri ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem pelayanan haji yang lebih berkualitas, efisien, dan berorientasi pada kenyamanan jamaah.


"Yang kita bangun bukan hanya fasilitas, tetapi sistem pelayanan haji yang semakin baik. Seluruh persiapan harus dilakukan secara matang agar penyelenggaraan haji 2027 menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, lebih efisien, dan semakin berpihak kepada jamaah," kata sosok yang akrab disapa Gus Irfan tersebut. 


Sementara itu, Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur, Mohammad As’Adul Anam, memaparkan bahwa berdasarkan proyeksi tahun 2027, Embarkasi Dhoho tidak hanya melayani jamaah dari wilayah eks Karesidenan Kediri dan Madiun saja. Kemenhaj juga mengusulkan pengalihan rute untuk Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro ke Bandara Dhoho.


"Penambahan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro didasarkan pada pertimbangan jarak tempuh yang lebih dekat menuju Bandara Dhoho dibandingkan Embarkasi Surabaya," jelas Anam.


Dengan total proyeksi mencapai 10.548 jamaah, kehadiran Embarkasi Dhoho diharapkan mampu mengurai kepadatan di Surabaya sekaligus memberikan keadilan akses bagi jamaah di bagian barat dan selatan Jawa Timur. "Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan jamaah sekaligus mendukung pemerataan layanan embarkasi haji di Jawa Timur," tambahnya.


Selain faktor geografis yang menguntungkan jamaah, secara teknis Bandara Dhoho Kediri juga menjadi solusi atas tantangan operasional yang selama ini dihadapi Embarkasi Surabaya di Bandara Juanda.


Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, mengungkapkan bahwa selama ini Bandara Juanda belum dapat melayani pesawat berbadan lebar jenis Boeing 777-300 untuk penerbangan haji. Akibatnya, penerbangan dari Surabaya harus menggunakan pesawat Airbus A330-300 yang memerlukan technical landing (transit) untuk pengisian bahan bakar, baik saat keberangkatan maupun kepulangan. Hal ini berdampak langsung pada membengkaknya biaya operasional.


Bandara Dhoho Kediri, dengan spesifikasi landasan pacunya, dinilai memiliki potensi besar untuk memangkas kendala teknis tersebut. Meski demikian, Kemenhaj memastikan tidak akan terburu-buru dan tetap mengutamakan aspek keselamatan serta kelayakan fasilitas.


"Bandara Dhoho memiliki potensi menjadi embarkasi haji baru. Namun, seluruh aspek pendukung harus dipastikan siap agar pelayanan kepada jamaah dapat berjalan optimal," kata Ian.


Melalui sinergi awal antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Kediri, serta Otoritas Bandara Wilayah Surabaya, persiapan dini ini diharapkan dapat mematangkan seluruh fasilitas operasional.


Dengan demikian, pada musim haji 2027 mendatang, Bandara Dhoho Kediri siap menyambut belasan ribu tamu Allah dengan standar pelayanan yang jauh lebih efektif dan nyaman.