Jakarta, MCNID.net — Bulan Rabiul Awal memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Pasalnya, pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Kehadiran Rasulullah menjadi salah satu nikmat terbesar bagi umat manusia karena melalui beliau Allah SWT menyampaikan risalah Islam yang membawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam.
Sehingga, Rabiul Awal juga dikenal sebagai bulan Maulid. Momentum ini tidak hanya diisi dengan kegembiraan mengenang kelahiran Rasulullah saja, namun juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kecintaan kepada beliau melalui berbagai amal kebajikan dan ibadah.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan selama bulan Rabiul Awal. Di antaranya adalah memperbanyak puasa dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad.
Selain itu, tradisi umat Islam dalam memuliakan bulan kelahiran Rasulullah ialah dengan memberikan sedekah, jamuan makanan, memperbanyak amal kebaikan, serta memberikan perhatian terhadap kisah kelahiran beliau.
إِعْلَمْ أَنَّهُ يُطْلَبُ فِي هَذَا الشَّهْرِ كَثْرَةُ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ تَعَالَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَزَادَهُ شَرَفًا وَكَرَمًا لَدَيْهِ. لِأَنَّ هَذَا الشَّهْرَ الْعَظِيمَ قَدْ ظَهَرَ فِيهِ الْخَيْرُ الْعَمِيمُ وَطَلَعَ فِيْهِ سَعْدُ السُّعُودِ، بِإِشْرَاقِ طَلْعَةِ نَبِيِّنَا السَّنِيَّةِ عَلَى الْوُجُودِ ...وَلَا زَالَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ يَحْتَفِلُوْنَ بِشَهْرِ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَعْمَلُوْنَ الْوَلَائِمَ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ لَيَالِيَهُ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ بِهِ وَيَزِيْدُونَ فِي الْمَبَرَّاتِ، وَيَعْتَنُونَ بِقِصَّةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ
“Ketahuilah, pada bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak puasa dan membaca sholawat kepada Nabi kita, pemimpin seluruh manusia, semoga Allah senantiasa melimpahkan sholawat dan salam kepadanya serta menambah kemuliaan dan kehormatan beliau di sisi-Nya. Sebab, pada bulan yang agung ini telah tampak kebaikan yang melimpah dan terbit keberuntungan yang besar dengan hadirnya cahaya Nabi kita yang mulia ke alam semesta.
Sejak dahulu kala, kaum Muslimin senantiasa memuliakan bulan kelahiran Nabi SAW. Mereka mengadakan jamuan, bersedekah pada malam-malamnya dengan berbagai bentuk sedekah, menampakkan kegembiraan, memperbanyak amal kebajikan, serta memberikan perhatian khusus terhadap kisah kelahiran beliau yang mulia. Berkat semua itu, tampak pada mereka berbagai limpahan kebaikan dan keberkahan.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 130)
Bertolak dari keterangan tersebut, setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat diperbanyak umat Islam selama bulan Maulid. Berikut penjelasan beserta dalilnya:
Memperbanyak Bacaan Sholawat
Amalan pertama adalah memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat merupakan bentuk doa sekaligus penghormatan serta ungkapan kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah. Anjuran bersholawat ini diperintahkan secara langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Keutamaan sholawat juga diterangkan dalam riwayat hadis. Rasulullah menyatakan bahwa satu kali sholawat yang dibaca seorang Muslim akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh sholawat, dihapus sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajatnya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali kebaikan, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR. Ahmad)
Selain itu, keistimewaan sholawat juga mendapat perhatian Imam Abu Laits as-Samarqandi (wafat 373 H). Menurutnya, terdapat keistimewaan tersendiri dalam perintah bersholawat. Pada berbagai ibadah, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakannya.
Sementara dalam sholawat, Allah terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW, kemudian para malaikat-Nya, lalu memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan hal yang sama.
فَفِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ بِهَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ صَلَّى عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوَّلًا، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ يُصَلُّوا عَلَيْهِ، فَثَبَتَ بِهَذَا أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ
“Dalam berbagai ibadah lainnya, Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Tetapi dalam hal bersholawat kepada Nabi SAW, Allah terlebih dahulu bersholawat kepada beliau, kemudian memerintahkan para malaikat-Nya untuk bersholawat kepadanya, lalu memerintahkan orang-orang beriman agar turut bersholawat kepada beliau. Dari sini dapat dipahami bahwa bersholawat kepada Nabi SAW memiliki kedudukan yang sangat utama di antara berbagai bentuk ibadah.” (Tanbih al-Ghafilin [Beirut: Dar Ibn Katsir], vol. 1, h. 412)
Sebab itulah, bulan kelahiran Rasulullah dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin membiasakan lisan dengan bacaan sholawat, sekaligus memperkuat hubungan batin dan kecintaan kepada beliau.
Melaksanakan Puasa
Di samping memperbanyak bacaan sholawat, puasa menjadi amalan berikutnya yang dapat dilakukan sepanjang bulan Rabiul Awal. Salah satu landasannya, bisa dilihat dari kebiasaan Rasulullah SAW berpuasa pada hari Senin, hari dimana beliau dilahirkan. Tatkala ditanya mengenai puasa Senin, beliau lantas menjawab:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Artinya: “Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab; Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu.” (HR. Muslim)
Hadis di atas menunjukkan adanya hubungan antara puasa dan rasa syukur terhadap nikmat besar yang Allah anugerahkan pada suatu hari. Rasulullah sendiri mengaitkan puasa Senin dengan hari kelahiran dan turunnya wahyu kepadanya.
Terkait hal ini, Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung isyarat perihal anjuran berpuasa pada hari ketika nikmat Allah kembali dikenang. Adapun diutusnya Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat Islam.
وَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَتْ عَلَيَّ فِيْهِ النُّبُوَّةُ، إِشَارَةٌ إِلَى اسْتِحْبَابِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الَّتِي تَتَجَدَّدُ فِيْهَا نِعَمُ اللهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ. فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ إِظْهَارُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَبَعْثَتُهُ، وَإِرْسَالُهُ إِلَيْهِمْ... فَصِيَامُ يَوْمٍ تَجَدَّدَتْ فِيْهِ هَذِهِ النِّعَمُ مِنَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ حَسَنٌ جَمِيلٌ، وَهُوَ مِنْ بَابِ مُقَابَلَةِ النِّعَمِ فِي أَوْقَاتِ تَجَدُّدِهَا بِالشُّكْرِ
“Dalam sabda Nabi SAW saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari ketika aku dilahirkan dan pada hari itu pula kenabian diturunkan kepadaku. Hadis ini mengisyaratkan anjuran berpuasa pada hari-hari ketika nikmat Allah Ta’ala kembali dikenang dan diperbarui bagi para hamba-Nya. Sebab, di antara nikmat Allah yang paling agung bagi umat ini adalah diutus dan dihadirkannya Nabi Muhammad SAW kepada mereka sebagai rasul.
Karena itu, berpuasa pada hari yang menjadi momentum datangnya nikmat-nikmat tersebut merupakan amalan yang baik dan terpuji. Hal ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat Allah pada waktu ketika nikmat itu kembali dikenang dan dirasakan.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 236)
Oleh karenanya, melaksanakan puasa terlebih puasa Senin bisa menjadi salah satu cara mengisi bulan Maulid dengan ibadah sekaligus mensyukuri nikmat kelahiran dan diutusnya Rasulullah.
Memperingati Maulid Nabi
Amalan selanjutnya adalah memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid menjadi salah satu bentuk ekspresi kegembiraan, kecintaan, dan penghormatan umat Islam kepada Rasulullah.
Dalam pelaksanaannya, Maulid lazimnya diisi dengan kegiatan kumpul bersama, membaca Al-Qur’an, mengisahkan perjalanan dan kelahiran Rasulullah, bersholawat, bersedekah, serta menyediakan makanan bagi jamaah. Dengan demikian, momentum Maulid sejatinya menghimpun berbagai bentuk amal kebajikan dalam satu majelis.
Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) menuturkan bahwa bentuk peringatan Maulid yang berisi kegiatan-kegiatan demikian termasuk bid’ah hasanah. Menurutnya, pelakunya memperoleh pahala lantaran terdapat unsur pengagungan terhadap kedudukan Rasulullah serta ekspresi kegembiraan atas kelahiran beliau.
أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطًا يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِهِ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّرِيْفِ
“Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi SAW serta tanda-tanda yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Setelahnya, dihidangkan makanan untuk disantap bersama, kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut.
Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi SAW serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia.” (Husnu al-Maqshud fi al-Amal al-Maulidi [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], h. 41)
Dengan begitu, kegiatan peringatan Maulid hakikatnya tidak sebatas mengenang sebuah peristiwa bersejarah. Ketika diisi dengan membaca Al-Qur’an, sholawat, sedekah, pembacaan sirah, dan berbagai amalan lainnya, momentum ini juga menjadi sarana guna menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah dan mensyukuri nikmat Allah atas diutusnya beliau.
Itulah tiga amalan yang dapat diperbanyak selama bulan Maulid, yakni bersholawat, berpuasa, dan memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Ketiganya memiliki landasan yang kuat dari Al-Qur’an, hadis, maupun penjelasan para ulama sebagaimana uraian yang telah disebutkan.



