Jakarta, MCNID.net--Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Drajad Hari Wibowo, menyatakan bahwa pengembangan ekonomi syariah bukan sekadar pemenuhan kaidah agama, melainkan strategi kunci dalam memperkuat daya saing bangsa di pasar global.
Hal tersebut disampaikannya saat mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Dalam sambutannya, Drajad menyampaikan bahwa prinsip ekonomi syariah pada hakikatnya bersifat universal, yakni mewujudkan perdagangan yang adil, jujur, dan beretika (fair and just trade). Melalui jaminan rantai pasok dari hilir ke hulu yang halalan thoyyibah, ekonomi syariah diyakini mampu meningkatkan tingkat kepercayaannya di kancah internasional.
"Ekonomi syariah jangan hanya kita lihat dari sisi agama saja, tetapi pesannya sangat universal, yaitu perdagangan yang saling rida atau fair and just trade. Dengan ekosistem yang terjamin halalan thoyyibah dari awal hingga akhir rantai pasok, produk-produk Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang kuat di pasar internasional," ujar Drajad.
Lebih lanjut, Drajad memaparkan bahwa peluang pasar halal global sangat melimpah. Proyeksi belanja Muslim dunia diperkirakan bakal menyentuh USD 3,6 triliun pada 2029, sementara aset keuangan syariah global diprediksi mencapai USD 9,72 triliun. Untuk menangkap peluang emas tersebut, pemerintah terus memperluas jaringan kerja sama dan ekosistem industri halal domestik.
Saat ini, Indonesia telah mengantongi 123 perjanjian pengakuan saling terima (Mutual Recognition Agreement/MRA) sertifikasi halal bersama lembaga mitra dari 43 negara, termasuk negara-negara dengan pasar non-Muslim besar seperti Tiongkok dan Australia.
Penetrasi pasar juga terus ditingkatkan melalui percepatan kesepakatan dagang internasional seperti Indonesia-EU CEPA serta perundingan dengan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC), Turki, Pakistan, dan Bangladesh.
Drajad menambahkan bahwa kontribusi rantai nilai halal domestik telah menyumbang hampir 25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara dengan Rp1.524 triliun pada kuartal akhir. Kinerja ekspor produk halal nasional pun mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 23 persen hingga mencapai nilai USD 63,4 miliar.
Pemerintah optimistis keberadaan ekonomi syariah akan menjadi tumpuan utama dalam menopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada 2027 menuju target jangka menengah 8 persen. Melalui penguatan industri halal, percepatan efisiensi birokrasi, dan perluasan kemitraan global, Indonesia diproyeksikan semakin kokoh sebagai pusat industri halal dunia.



