Teheran, MCNID.net -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengklaim Iran mulai menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington setelah perang dan ketegangan di kawasan Timur Tengah terus memanas sejak akhir Februari lalu. Namun di sisi lain, Teheran mengaku masih mengkaji proposal terbaru AS dan belum menyetujui tuntutan utama terkait program nuklirnya.

Trump mengatakan, pembicaraan antara kedua negara dalam 24 jam terakhir berjalan positif dan peluang tercapainya kesepakatan cukup besar.

“Mereka ingin mencapai kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” ujar Trump  seperti dilansir //Arabnews//, Kamis  (7/5/2026).

Meski demikian, beberapa jam sebelumnya Trump justru terdengar lebih pesimistis. Dalam unggahan di Truth Social, ia bahkan mengancam akan melanjutkan kembali kampanye pengeboman terhadap Iran jika Teheran menolak proposal terbaru Washington.

Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri yang dikutip kantor berita ISNA menyatakan masih mempelajari proposal perdamaian tersebut dan akan memberikan respons resmi dalam waktu dekat.

Sumber yang mengetahui proses mediasi menyebutkan bahwa AS dan Iran kini hampir menyepakati sebuah memorandum satu halaman yang akan menjadi dasar penghentian konflik secara formal. Dokumen itu disebut akan membuka jalan bagi pembahasan pencabutan sanksi AS, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta pembatasan tertentu terhadap program nuklir Iran.

Namun sejumlah isu utama masih belum terselesaikan, termasuk tuntutan Washington agar Iran menghentikan sebagian aktivitas nuklirnya serta pengawasan terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz sendiri sebelum perang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Ketegangan di kawasan itu selama beberapa pekan terakhir sempat mengguncang pasar energi dunia.

Laporan mengenai potensi kesepakatan damai langsung membuat harga minyak mentah dunia anjlok. Minyak Brent bahkan sempat turun sekitar 11 persen hingga menyentuh level 98 dolar AS per barel sebelum kembali naik di atas 100 dolar AS.

Parlemen Iran merespons dingin proposal AS tersebut. Juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut isi proposal itu lebih mirip “daftar keinginan Amerika daripada kenyataan.”

Sementara Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menyindir laporan mengenai kesepakatan damai melalui unggahan media sosial berbahasa Inggris dengan kalimat, “Operation Trust Me Bro failed.”

Di tengah negosiasi yang berlangsung, militer AS dilaporkan tetap melakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran di kawasan Teluk. Komando Pusat AS bahkan mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Iran yang mencoba menuju pelabuhan Iran dan dianggap melanggar blokade.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dirinya dan Trump sepakat seluruh uranium yang diperkaya harus dikeluarkan dari Iran demi mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Iran sendiri terus membantah tuduhan bahwa program nuklirnya bertujuan memproduksi bom atom.