Jakarta, MCNID.net--Kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah di Indonesia tidak hanya memicu kenaikan suhu udara, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Ketersediaan air bersih kian menipis, sektor pertanian mengalami kekeringan, dan debu tebal mengancam kesehatan.ย 

Menghadapi kondisi krisis ini, umat Islam dianjurkan untuk menempuh ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan Shalat Istisqa guna memohon diturunkannya hujan.

Shalat Istisqa merupakan ibadah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dapat dilaksanakan kapan saja, baik siang maupun malam, tanpa terikat waktu khusus, selama ada sebab yang melatarbelakanginya, yaitu kebutuhan mendesak akan air. Secara teknis, ibadah ini mirip dengan shalat Id, namun memiliki keunikan pada pembacaan istighfar dan khutbahnya.

Berikut adalah tata cara pelaksanaan Shalat Istisqa berdasarkan petunjuk para ulama:

1. Melaksanakan shalat dua rakaat

Shalat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat sebagaimana shalat sunnah lainnya, dengan niat memohon kepada Allah supaya menurunkan hujan. Adapun lafal niatnya sebagai berikut:

ุฃูุตูŽู„ู‘ููŠู’ ุณูู†ู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ุชูุณู’ู‚ูŽุงุกู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู’ู…ู‹ุง/ุฅูู…ูŽุงู…ู‹ุง ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

Ushalli sunnatal istisqai rakโ€™ataini maโ€™muman/imaman lillahi taala.

Artinya: โ€œAku berniat shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum (atau imam), karena Allah Taโ€™ala.โ€

2. Takbir tujuh kali pada rakaat pertama

Setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, disunnahkan untuk melakukan tujuh kali takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah. Setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Qaf atau Surah Al-Aโ€™la. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], h. 112)

3. Takbir lima kali pada rakaat kedua

Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud, dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah. Lalu, disunnahkan membaca Surah Al-Qamar atau Surah Al-Ghasyiyah. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], h. 112)

4. Dilanjutkan dengan khutbah

Usai melaksanakan shalat sebanyak dua rakaat, imam kemudian menyampaikan khutbah istisqa. Khutbah dapat disampaikan baik sebelum maupun sesudah shalat, akan tetapi melaksanakannya setelah shalat dinilai lebih utama.

5. Membaca istighfar sembilan kali sebelum khutbah pertama

Berbeda dengan khutbah Id yang diawali dengan takbir, khutbah istisqa dibuka dengan bacaan istighfar. Sebelum memasuki khutbah pertama, khatib dianjurkan membaca istighfar sebanyak sembilan kali. Adapun lafal yang dapat dibaca antara lain:

ุฃูŽุณู’ุชูŽุบููุฑู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ุนูŽุธููŠู’ู…ู ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ุญูŽูŠูู‘ ุงู„ู‚ูŽูŠูู‘ูˆู’ู…ู ูˆูŽุฃูŽุชููˆู’ุจู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูย 

Astaghfirullahal โ€˜azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaih.

Artinya, โ€œAku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri. Aku bertobat kepada-Nya.โ€

6. Membaca istighfar tujuh kali sebelum khutbah kedua

Sebelum memasuki rangkaian khutbah kedua, khatib kembali dianjurkan membaca istighfar dengan lafal yang sama sebanyak tujuh kali. Penggunaan istighfar dalam khutbah istisqa mengandung pesan penting bahwa permohonan hujan tidak hanya disertai doa, namun juga pertobatan dan permohonan ampun kepada Allah.

7. Memperbanyak Doa Memohon Turunnya Hujan

Salah satu bagian penting dalam rangkaian khutbah istisqa adalah memperbanyak doa. Di antara doa yang dapat dibaca untuk memohon hujan adalah sebagai berikut:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุณูู‚ู’ูŠูŽุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽุง ุณูู‚ู’ูŠูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุญู’ู‚ู ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽู„ูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูŽุฏู’ู…ู. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ู‚ูู†ูŽุง ุบูŽูŠู’ุซู‹ุง ู‡ูŽู†ููŠุฆู‹ุง ู…ูŽุฑููŠู’ุฆู‹ุง ู…ูŽุฑููŠู’ุนู‹ุง ุบูŽุฏูŽู‚ู‹ุง ู…ูุฌูŽู„ู‘ูู„ู‹ุง ุณูŽุญู‘ู‹ุง ุทูŽุจูŽู‚ู‹ุง ุฏูŽุงุฆูู…ู‹ุง. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ู‚ูู†ูŽุง ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุซูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงู†ูุทููŠู’ู†ูŽ. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุงู„ู’ุจูู„ูŽุงุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู‡ู’ุฏู ูˆูŽุงู„ู’ุฌููˆู’ุนู ูˆูŽุงู„ุถู‘ูŽู†ู’ูƒู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ู†ูŽุดู’ูƒููˆู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุจูุชู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุงู„ุฒู‘ูŽุฑู’ุนูŽ ูˆูŽุฃูŽุฏูุฑู‘ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ุงู„ุถู‘ูŽุฑู’ุนูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุฒูู„ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุจูุชู’ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงูƒู’ุดููู’ ุนูŽู†ู‘ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุงุกู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽูƒู’ุดูููู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑููƒูŽ. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููƒูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุบูŽูู‘ูŽุงุฑู‹ุง ููŽุฃูŽุฑู’ุณูู„ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูุฏู’ุฑูŽุงุฑู‹ุง

Allahumma suqya rahmatin wa la suqya โ€˜adzabin wa la mahqin wa la balaโ€™in wa la hadmin. Allahumma asqina ghaitsan haniโ€™an mariโ€™an mariโ€˜an ghadaqan mujallalan sahhan thabaqan daโ€™iman. Allahumma asqinal ghaitsa wa la tajโ€˜alna minal qanithin. Allahumma inna bil โ€˜ibadi wal biladi minal jahdi wal juโ€˜i wadh-dhanki ma la nasyku illa ilaika. Allahumma anbit lanaz-zarโ€˜a wa adir lanadh-dharโ€˜a wa anzil โ€˜alaina min barakatis-samaโ€™i wa anbit lana min barakatil ardhi, waksyif โ€˜anna minal balaโ€™i ma la yaksyifuhu ghairuka. Allahumma inna nastaghfiruka innaka kunta ghaffaran, fa arsilis-samaโ€™a โ€˜alaina midraran.

Artinya: โ€œYa Allah, turunkanlah kepada kami hujan sebagai rahmat, bukan hujan yang mendatangkan azab, kehancuran, bencana, ataupun kerusakan. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang baik, menyegarkan, menyuburkan, lebat, merata, deras, melimpah, dan terus-menerus. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.ย 

Ya Allah, sungguh para hamba dan negeri-negeri sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman bagi kami, limpahkanlah susu dari hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi, dan singkirkanlah dari kami berbagai bencana yang tidak dapat disingkirkan oleh siapa pun selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh, Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah kepada kami hujan dari langit dengan deras.โ€

8. Membalik Selendang saat Khutbah

Dalam pelaksanaan shalat istisqa, utamanya pada sekitar sepertiga bagian khutbah kedua terdapat kesunnahan bagi khatib untuk menghadap kiblat, kemudian membalik dan memindahkan posisi selendang atau kain yang dikenakannya dari sisi kanan ke kiri dan sebaliknya. Amalan ini juga bisa dilakukan oleh jamaah laki-laki yang hadir, sedangkan jamaah perempuan tidak dianjurkan melakukannya. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], h. 113)

Praktik membalik selendang tersebut merupakan bentuk tafaโ€™ul atau optimism, agar Allah mengubah keadaan dari kekeringan dan kesulitan menuju turunnya hujan dan kelapangan. Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1316 H) dalam kitab Nihayah az-Zain menjelaskan:

ูˆูŽุญููƒู’ู…ูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุญู’ูˆููŠู’ู„ู ุงู„ุชู‘ูŽููŽุงุคูู„ู ุจูุชูŽุบูŽูŠู‘ูุฑู ุงู„ู’ุญูŽุงู„ู ู…ูู†ู’ ุดูุฏู‘ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุฎูŽุงุกู ููŽูŠูุบูŽูŠู‘ูุฑููˆู’ู†ูŽ ุจูŽูˆูŽุงุทูู†ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ุจูŽุฉู ูˆูŽุธูŽูˆูŽุงู‡ูุฑูŽู‡ูู…ู’ ุจูุชูŽุญู’ูˆููŠู’ู„ู ุฃูŽุฑู’ุฏููŠูŽุชูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูŽู†ู’ูƒููŠู’ุณูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูุชู’ุฑูŽูƒู ุงู„ุฑู‘ูุฏูŽุงุกู ู…ูุญูŽูˆู‘ูŽู„ู‹ุง ู…ูู†ูŽูƒู‘ูŽุณู‹ุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ุฒูŽุนูŽ ุงู„ุซู‘ููŠูŽุงุจู

โ€œHikmah dari membalik selendang adalah sebagai bentuk optimisme supaya keadaan berubah dari kesulitan menuju kelapangan. Karena itu, mereka mengubah keadaan batin dengan bertobat, sementara secara lahiriah diwujudkan dengan membalik selendang. Selendang itu dibiarkan dalam keadaan demikian hingga pakaian dilepas.โ€ (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin [Beirut: Dar al-Fikr], h. 113).