Jakarta, MCNID.net--Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah lama mengakar sebagai tradisi keislaman yang dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara.
Dari pelosok desa hingga pusat kota, umat Islam merayakannya melalui berbagai bentuk ekspresi, mulai dari lantunan sholawat yang khidmat di surau hingga tradisi kebudayaan berskala besar di berbagai daerah.
Di balik keanekaragaman perayaan tersebut, kerap muncul pertanyaan mengenai urgensi serta pijakan keagamaan yang menjadi dasarnya. Menjawab hal ini, ulama pakar hadis terkemuka asal Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, memberikan penjelasan komprehensif mengenai alasan mendasar mengapa perayaan kelahiran Rasulullah SAW memiliki kedudukan yang sangat penting bagi umat Islam.
Dalam karyanya yang monumental, Haul al-Ihtifal bi Dzikri al-Maulid an-Nabawi asy-Syarif, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah sekadar rutinitas seremonial tahunan, melainkan sebuah sarana spiritual dan edukatif yang sarat makna.
Salah satu alasan utama yang beliau tekankan adalah kedudukan Maulid sebagai wujud kegembiraan atas rahmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada alam semesta. Kehadiran Rasulullah SAW membawa petunjuk hidup dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
Rasa bahagia atas kelahiran beliau memiliki nilai yang begitu agung di sisi Allah, bahkan dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa keringanan azab pun diberikan kepada Abu Lahab setiap hari Senin hanya karena ia pernah memerdekakan budaknya sebagai bentuk suka cita menyambut kelahiran sang ponakan.
Selain sebagai ekspresi kegembiraan, perayaan Maulid Nabi dipandang penting sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa syukur. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mengaitkan hal ini dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa berpuasa pada hari Senin.
Ketika ditanya mengenai alasan di balik ibadah tersebut, Nabi menjelaskan bahwa hari Senin adalah hari kelahirannya sekaligus hari diturunkannya wahyu. Hal ini menandakan bahwa Rasulullah sendiri mengagungkan hari kelahirannya melalui bentuk ibadah.
Maka dari itu, perayaan Maulid yang diisi dengan berbagi makanan, berzikir, serta bersholawat pada dasarnya memiliki substansi yang sejalan dengan tradisi kesyukuran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Lebih jauh lagi, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menyoroti pentingnya Maulid sebagai momentum untuk memperdalam pengenalan dan kecintaan kepada figur Nabi Muhammad SAW.
Melalui majelis-majelis Maulid, umat Islam diajak untuk mendengarkan kembali rekam jejak kehidupan, keluhuran akhlak, ciri fisik, hingga mukjizat beliau. Pengenalan yang mendalam ini sangat krusial karena kecintaan yang sejati tidak dapat tumbuh tanpa adanya pengetahuan.
Dengan mengenali perjalanan hidup Nabi, umat Islam dipacu untuk memantapkan keimanan serta mengaplikasikan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan Maulid juga menjadi wadah strategis yang menghimpun pelbagai amalan bernilai ibadah.
Aktivitas berkumpulnya masyarakat untuk mengingat Allah, melantunkan pujian kepada Nabi, serta mempererat tali silaturahmi merupakan kegiatan yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki juga membandingkan fungsi peringatan ini dengan hikmah di balik rangkaian ibadah haji, seperti sa'i dan melempar jumrah, yang pada hakikatnya merupakan upaya menghidupkan kembali kenangan atas peristiwa-peristiwa bersejarah masa lalu.
Dengan demikian, perayaan Maulid Nabi berperan penting menjaga agar ingatan, kecintaan, dan keteladanan kepada Rasulullah SAW tetap hidup dan mengakar kuat dalam sanubari setiap generasi Muslim.



