Jakarta, MCNID.net--Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, mengingatkan seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) untuk memperkuat fondasi dan nilai-nilai keislaman dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) serta era transhumanisme.


Imbauan tersebut disampaikan Prof Haedar saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (7/8/2026). Di hadapan 6.700 kader dari seluruh Indonesia, ia menekankan pentingnya menjaga kejernihan akal dan spiritualitas agar manusia tidak tergerus oleh dominasi teknologi.


"Kita ini umat muslim yang diberi akal pikiran. Apakah ingin menjadi bagian dari Artificial Intelligence (AI)? Atau kita tetap akan menjadi khalifatul fil ardh? Itu tergantung kita, apakah pikiran kita akan terus diperkaya," tegas Prof Haedar.


Prof Haedar menjelaskan bahwa di tengah era digital dan maraknya tantangan zaman seperti humanisme sekuler, kader perempuan muda Muhammadiyah tidak boleh kehilangan identitas nilai keislamannya. Teknologi dan media sosial menurutnya harus disikapi dengan kedalaman ilmu agar tidak membuat pemikiran menjadi dangkal.


Untuk itu, Prof Haedar mendorong kader NA agar terus memperkuat benteng moral melalui iman, takwa, dan akhlakul karimah. Kombinasi antara spiritualitas yang kokoh, pemikiran tajdid (pembaharuan), serta penguasaan ilmu pengetahuan dianggap sebagai kunci utama agar kader perempuan muda mampu mengendalikan arah teknologi demi membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan.