Depok, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, menilai bahwa memiliki sifat rendah hati (tawadhu') merupakan kunci utama untuk menciptakan ketenangan batin dan membuat kehidupan seseorang terasa jauh lebih nyaman. Menurutnya, kerendahan hati menghindarkan seseorang dari beban ekspektasi berlebihan serta rasa mudah tersinggung dalam bersosialisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Cholil saat memimpin pengajian Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Maudzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026).
Dalam tausiyahnya, Wakil Ketua Umum MUI ini menekankan pentingnya membedakan antara sifat rendah hati (tawadhu') dan rendah diri (inferior). Orang yang rendah hati adalah pribadi yang jujur terhadap dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan diri yang kuat, tanpa merasa lebih tinggi atau lebih mulia dibandingkan dengan orang lain.
"Orang yang tawadhu' itu menikmati kerendahan hatinya, jadi hidupnya terasa sangat nyaman. Kalau Bapak dan Ibu ingin tidak mudah tersinggung ke mana pun pergi, kuncinya gampang: jangan menghargai diri sendiri secara berlebihan melebihi penghargaan orang lain kepada kita," ujar Kiai Cholil.
CEO Amanah Zakat ini memaparkan bahwa kekecewaan dan rasa sakit hati sering kali bersumber dari tingginya ekspektasi diri yang menuntut orang lain untuk selalu menghormati, menyambut, atau memberikan perlakuan khusus. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, seseorang cenderung mudah merasa kecewa, marah, hingga mengalami rasa stres.
Lebih lanjut, Kiai Cholil juga menyoroti fenomena sosial terkait ketergantungan pada jabatan, kekayaan, dan fasilitas duniawi. Kiai Cholil mengingatkan bahwa kebanggaan yang disandarkan pada hal-hal fana kerap memicu gangguan psikologis atau post-power syndrome saat kedudukan atau fasilitas tersebut tiba-tiba hilang.
"Banyak orang yang stres setelah pensiun karena ekspektasi tinggi. Dulu selalu dihormati dan diiringi pengawal, padahal pengawal itu mengikutinya karena tugas dan dibayar, bukan semata-mata karena dirinya. Begitu pensiun dan fasilitas ditarik, mereka jadi bingung dan tidak siap," jelasnya.
Oleh karena itu, Kiai Cholil mengimbau umat Islam untuk senantiasa mengelola hati dengan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada Allah SWT serta membiasakan diri bersikap biasa saja dalam menghadapi pujian maupun pengabaian dari sesama.
"Kepengin hidup nyaman? Mengabdilah dan berakhlak mulia karena Allah, bukan karena ingin dihormati orang. Berharaplah hanya kepada Allah, maka kita tidak akan pernah kecewa dan selalu dapat bersikap husnuzan," kata Kiai Cholil.



