Jakarta, MCNID.net--Memasuki abad kedua perjalanannya, kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) dituntut untuk semakin adaptif terhadap dinamika perubahan sosial tanpa kehilangan nilai-nilai dasar organisasi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh.
Menurut Prof Niam, identitas NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) menuntut setiap langkah organisasi agar senantiasa berpijak pada prinsip keagamaan, sekaligus peka terhadap perkembangan zaman.
“NU memiliki komitmen untuk menjaga nilai-nilai lama yang baik. Namun mempertahankan tradisi saja tidak cukup, karena masyarakat terus berubah. Perubahan itu harus direspons dengan kemampuan beradaptasi secara arif dan bertanggung jawab,” ujar Prof Niam dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) MA IPNU bertema “Kepemimpinan NU yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial” di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan bahwa kaidah klasik NU, Al-Muhafazhah ’ala al-Qadim ash-Shalih wal Akhdzu bil Jadid al-Ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik), harus terus direvitalisasi. Bahkan, NU tidak boleh hanya puas menjadi pengguna inovasi pihak lain.
“Jika hanya berhenti pada al-akhdzu bil jadid al-ashlah, kita baru menjadi pengguna dari inovasi yang diciptakan orang lain. Tantangan NU ke depan adalah menghadirkan inovasi yang lahir dari rahim jam’iyah sendiri, sehingga NU tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi ikut menentukan arah perubahan,” tegas Pengasuh Pesantren An-Nahdlah Depok tersebut.
Perubahan komposisi generasi di tubuh NU yang membawa latar belakang pendidikan, teknologi, dan pengalaman beragam dinilai menuntut model kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan inovatif, dengan tetap memegang teguh nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam konsolidasi pemikiran menuju Muktamar NU ini, Ketua Umum MA IPNU ini juga menekankan bahwa MA IPNU memegang peran strategis sebagai jembatan regenerasi.
"Wadah ini diharapkan dapat menyambungkan kebijaksanaan generasi senior dengan energi kreatif generasi muda, sehingga penguatan sistem kepemimpinan organisasi dapat terus mengawal transformasi NU demi kemaslahatan umat dan bangsa," ujarnya.



