MUI Ingatkan Umat Pertahankan Kebiasaan Positif Usai Ramadan
Jakarta – Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, mengingatkan umat Islam untuk menjaga dan mempertahankan berbagai kebiasaan positif yang telah dibangun selama bulan suci Ramadan. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar rangkaian ritual yang berakhir dengan datangnya 1 Syawal, tetapi sebuah proses pendidikan ruhani yang seharusnya berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan menjalani Ramadan justru terlihat dari konsistensi amal setelah bulan tersebut berlalu.
Cholil Nafis menjelaskan, selama Ramadan umat dilatih mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, memperkuat kepedulian sosial, serta menegakkan shalat tepat waktu dan tilawah Al-Qur’an. Kebiasaan-kebiasaan ini, kata dia, tidak boleh ditinggalkan begitu saja setelah Idulfitri. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai "madrasah takwa" yang melatih kejujuran, disiplin, dan empati, sehingga bila kebiasaan baik itu diteruskan, masyarakat akan merasakan dampak positif dalam bentuk kehidupan yang lebih tertib, damai, dan penuh kasih sayang.
Lebih jauh, Cholil Nafis mengajak umat untuk menjadikan semangat Ramadan sebagai energi moral dalam membangun bangsa. Ia menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah dengan menghindari permusuhan, ujaran kebencian, dan perpecahan, terutama di ruang publik dan media sosial. Menurutnya, semangat saling memaafkan saat Idulfitri harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati perbedaan, mematuhi aturan negara, dan berkontribusi pada kebaikan bersama. Dengan demikian, nilai takwa yang diperoleh di bulan suci benar-benar menjadi karakter yang mewarnai perilaku umat Islam sepanjang tahun.
Tokoh yang juga aktif sebagai pendakwah dan pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menambahkan, mempertahankan kebiasaan positif pasca-Ramadan bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga akhlak dan etos kerja. Ia mendorong umat agar tetap bekerja secara profesional, jujur, dan amanah, serta menjauhi praktik korupsi dan kecurangan yang merugikan orang lain. Cholil Nafis mengingatkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang istiqamah, meski amal yang dilakukan sedikit, daripada banyak tetapi terputus di tengah jalan.
Cholil Nafis juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menjaga kontinuitas kebiasaan baik setelah Ramadan. Orang tua, menurutnya, perlu menjadi teladan dalam shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan menjaga adab pergaulan di rumah. Dengan demikian, suasana religius yang kuat di bulan puasa tidak hanya berakhir sebagai momen sesaat, tetapi terbangun sebagai budaya keluarga Muslim yang berkelanjutan. Ia berharap, dengan istiqamah dalam kebaikan, umat Islam di Indonesia dapat menjadi teladan di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya kehidupan yang lebih bermartabat dan berkeadaban.
Sumber: Aktual.com



