Jakarta, MCNID.net -- Di tengah beragam corak pemikiran Islam, Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tumbuh sebagai jalan keagamaan yang paling luas dianut umat Islam Indonesia. Bukan tanpa alasan. Aswaja menawarkan keseimbangan antara kemurnian ajaran, kedalaman tradisi, dan kemampuan beradaptasi dengan realitas zaman. Inilah yang membuatnya bukan hanya bertahan, tetapi juga menjadi arus utama keberagamaan di Nusantara.
Kiai muda NU, KH M Cholil Nafis, dalam karyanya //Hujjah dan Amaliyah Kaum Nahdliyin// menjelaskan, Aswaja adalah jalan Islam yang berakar pada ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Secara bahasa, //ahl// berarti keluarga, golongan, atau pengikut.
Ahlu al-Sunnah berarti penganut sunnah Nabi SAW, sedangkan Ahlu al-Jamaah berarti penganut kepercayaan jamaah para sahabat Nabi SAW.
"Karena itu, kaum Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) adalah kaum yang menganut ajaran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan jamaah para sahabatnya," tulis Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok ini.
Dengan demikian, Aswaja adalah manhaj yang mengikuti Nabi Muhammad SAW sekaligus meneladani generasi terbaik umat, yakni sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in.
Rumusan ini kemudian disusun secara sistematis oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari sehingga menjadi pedoman akidah yang kokoh bagi umat Islam.
Syekh Abi al-Fadl bin Abdusysyakur mendefinisikan Aswaja sebagai berikut:
ุฃููููู ุงูุณูููููุฉู ููุงูุฌูู ูุงุนูุฉู ุงูููุฐููููู ูุงูุฒูู ูููุง ุณููููุฉู ุงููููุจูููู ููุทูุฑูููููุฉู ุงูุตููุญูุงุจูุฉู ูููู ุงูุนูููุงุฆูุฏู ุงูุฏูููููููููุฉู ููุงูุฃูุนูู ูุงูู ุงูุจูุฏููููููุฉู ููุงูุฃูุฎููุงููู ุงูููููุจููููุฉู.
Artinya: โAhlussunnah wal jamaโah adalah orang-orang yang selalu mengikuti sunnah Nabi SAW dan praktik para sahabatnya dalam masalah aqidah, amal lahiriyah dan akhlak hati". (Al-Kawakib al-Lammaah: h. 8-9)
Definisi ini menunjukkan bahwa Aswaja bukan hanya berbicara tentang akidah. Ia mencakup tiga dimensi sekaligus, yakni keyakinan yang benar, ibadah yang tertib, dan akhlak yang luhur. Kombinasi inilah yang membuat Aswaja mampu menjawab kebutuhan spiritual sekaligus sosial umat.
Landasan Aswaja juga diperkuat oleh hadis Nabi SAW tentang kelompok yang selamat di tengah perpecahan umat:
ุงูููุชูุฑูููุชู ุงูููููููุฏู ุนูููู ุฅูุญูุฏูู ููุณูุจูุนููููู ููุฑูููุฉู ููุงููุชูุฑูููุชู ุงููููุตูุงุฑูู ุนูููู ุงูุซููููููู ููุณูุจูุนููููู ููุฑูููุฉู ููุณูุชูููุชูุฑููู ููุฐููู ุงูุฃูู ููุฉู ุนูููู ุซููุงูุซู ููุณูุจูุนููููู ููุฑูููุฉู ูููููููุง ูููู ุงููููุงุฑู ุฅููุงูู ููุงุญูุฏูุฉู. ููููููุง : ู ููู ูููู ููุง ุฑูุณููููู ุงููู ูุ ููุงูู ู ููู ููุงูู ุนูููู ู ูุซููู ุฃูููุง ุนููููููู ุงูููููู ู ููุฃูุตูุญูุงุจููู.(ุฑูุงู ุงูุชุฑู ุฐู ูุงูุญุงูู (
Artinya: โOrang-orang Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, dan orang-orang Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, dan ummat(ku) ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk ke neraka kecuali satu golongan.โ Kami bertanya: โsiapakah golongan satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: ialah golongan yang mengikuti apa yang aku lakukan saat ini dan para sahabatku.โ (HR at-Tirmidzi dan al-Hakim).
Dalam riwayat lain ditegaskan:
... " ุณูุชูููุชูุฑููู ุฃูู ููุชููู ุนูููู ุซููุงูุซู ููุณูุจูุนููููู ููุฑูููุฉู ุงููููุงุฌููููุฉู ู ูููููุง ููุงุญูุฏูุฉู ููุงูุจูุงูููููู ููููููููู. ูููููู: ููู ููู ุงููููุงุฌููููุฉูุ ููุงูู: ุฃููููู ุงูุณูููููุฉู ููุงูุฌูู ูุงุนูุฉู. ูููููู:ย ููู ูุง ุงูุณูููููุฉู ููุงูุฌูู ูุงุนูุฉูุ ููุงูู: ู ูุง ุฃูููุง ุนููููููู ุงูููููู ูย ููุฃูุตูุญูุงุจููู."
Artinya: "โฆ. Umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok. Hanya satu yang selamat, dan yang lainnya celakaโ. Nabi SAW ditanya: โSiapakah kelompok yang selamat itu ya Rasul Allah?โ. Nabi SAW menjawab: โYaitu kelompok Ahlussunnah wal Jamโah.โ Kemudian Nabi ditanya lagi: Apa itu sunnah dan jamaah?. Nabi menjawab: Ialah apa yang aku lakukan saat ini dan para sahabatku."
Sejarah membuktikan bahwa Aswaja bukanlah paham baru. Ia telah hidup sejak era sahabat. Tokoh-tokoh seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifa, dan Al-Syafi'i berperan besar menjaga kemurnian akidah dan merumuskan metodologi berpikir Islam yang seimbang. Imam al-Asy'ari kemudian mengkodifikasikannya secara sistematis untuk menjawab tantangan intelektual pada zamannya.
Di Indonesia, Aswaja menemukan rumah besarnya dalam Nahdlatul Ulama. Sejak berdiri pada 1926, NU menjadikan Aswaja sebagai fondasi organisasi: dalam akidah mengikuti Imam al-Asy'ari dan Abu Mansur al-Maturidi; dalam fikih mengikuti salah satu dari empat mazhab; dan dalam tasawuf meneladani Al-Junaid al-Baghdadi serta Al-Ghazali.
"Ini berarti NU adalah organisasi keagamaan yang secara formal membela dan mempertahankan Aswaja, dengan disertai batasan yang fleksibel," jelas Kiai Cholil.
Lantas mengapa Aswaja begitu diterima oleh mayoritas umat Islam Indonesia? Karena Aswaja menawarkan moderasi. Ia mengedepankan prinsip tawassuth (jalan tengah), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan i'tidal (tegak lurus). Prinsip-prinsip ini melahirkan sikap adil, egaliter, bijaksana, serta terbuka terhadap perbedaan tanpa kehilangan pijakan.
Aswaja juga terbukti relevan dalam kehidupan berbangsa. Paham ini menempatkan kemaslahatan umum di atas kepentingan kelompok.
"Aswaja merupakan paham yang mengutamakan kemaslahatan yang lebih luas dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat," jelas Kiai Cholil.
Karena itu, kalangan Aswaja selalu berada di garis depan dalam menjaga persatuan, merawat harmoni sosial, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam sejarah bangsa, tokoh-tokoh Aswaja menunjukkan kebesaran jiwa dengan mendahulukan persatuan nasional. Semangat ini menjadi bukti bahwa Aswaja bukan sekadar paham teologis, tetapi juga etika kebangsaan.
Di tengah munculnya berbagai paham yang cenderung ekstrem, kaku, atau eksklusif, Aswaja sangat relevan karena mampu memadukan teks dan konteks. Ia setia pada ajaran Rasulullah SAW, namun juga memahami realitas masyarakat. Itulah sebabnya Aswaja menjadi jalan mayoritas umat Islam Indonesia, karena ia menghadirkan Islam yang kokoh dalam prinsip, santun dalam sikap, dan luas dalam rahmat. (ed, Sagara).



