Jakarta, MCNID.net--Mantan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, menyerukan agar pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengedepankan mekanisme musyawarah mufakat alih-alih pemungutan suara (voting) dalam penetapan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Menurutnya, penggunaan sistem voting berpotensi besar menjadi celah masuknya praktik politik uang serta intervensi dari pihak luar.


​"Dalam kondisi saat ini, selama masih berlaku pemilihan yang menggunakan pemungutan suara, selama itu pula praktik politik uang takkan bisa dibendung. Melalui praktik lancung itulah intervensi dari kekuasaan, kaum pemodal, dan pihak luar dari mana pun bisa masuk," tegas Lukman dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Lukman menilai Muktamar ke-35 NU merupakan momentum krusial yang harus berlangsung secara terhormat. Menurutnya forum tertinggi PBNU ini sepatutnya mencerminkan marwah dan harkat para ulama penebar kebajikan.

​Namun, ia tidak menampik adanya kekhawatiran yang kian santer terdengar terkait munculnya tindakan tak terpuji. Ancaman seperti intimidasi kekuasaan, intervensi kaum pemodal, hingga transaksi jual-beli suara merupakan dinamika yang harus diwaspadai dan dicegah sejak dini.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Lukman mendesak agar sistem suksesi kepemimpinan di pucuk Syuriyah maupun Tanfidziyah dikembalikan pada hakikat permusyawaratan tertinggi. Ia mengimbau para peserta muktamar (muktamirin) untuk menghindari tata cara voting dan fokus pada penetapan pimpinan melalui musyawarah secara optimal.

​"Muktamirin dituntut untuk mampu bercermin diri dan ikhlas menyerahkan kewenangan bermusyawarah itu kepada ahlinya secara representatif," lanjut tokoh Nahdliyin tersebut.

Lebih lanjut, Lukman mengingatkan bahwa jika politik uang dan intervensi eksternal sampai memengaruhi muktamar, kemandirian NU dipertaruhkan. Hilangnya kemandirian tersebut berimplikasi langsung pada sirnanya izzah (kehormatan), marwah, dan berkah organisasi.

Mengakhiri pernyataannya, Lukman mengajak seluruh muktamirin yang memegang mandat warga NU untuk meresapi kembali spirit perjuangan para pendiri. Ia berharap perhelatan Muktamar yang membawa keistimewaan sejarah Tambakberas, Jombang, tersebut melahirkan keputusan yang membawa kemaslahatan bersama.