Jakarta, MCNID.net--Bencana kemarau panjang yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia tidak hanya berdampak pada meningkatnya suhu udara, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup masyarakat. Krisis persediaan air bersih, kekeringan lahan pertanian, hingga polusi debu yang semakin pekat menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi.
Dalam situasi kekeringan ekstrem dan kebutuhan akan air yang kian mendesak, ajaran Islam mengarahkan umatnya untuk menempuh ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan shalat istisqa guna memohon bantuan diturunkannya hujan dari langit.
Shalat istisqa merupakan ibadah sunnah muakkadah yang menjadi sarana bagi masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah krisis air. Rangkaian ibadah ini pada dasarnya dilaksanakan mirip dengan shalat Id, yaitu sebanyak dua rakaat dengan tambahan beberapa kali takbir pada tiap rakaatnya, serta diakhiri dengan penyampaian khutbah oleh khatib.
Namun, di antara seluruh prosesi ibadah tersebut, terdapat satu amalan yang sangat unik dan sarat akan pesan filosofis, yakni kesunnahan membalik selendang atau kain serban saat khutbah berlangsung.
Amalan membalik selendang ini umumnya dilaksanakan ketika khatib memasuki sekitar sepertiga bagian dari khutbah kedua. Pada momen tersebut, khatib akan menghadap ke arah kiblat, kemudian memindahkan dan membalik posisi kain atau selendang yang dikenakannya, dari sisi kanan ke sisi kiri dan sebaliknya.
Perbuatan ini tidak hanya dianjurkan bagi khatib yang berdiri di mimbar, melainkan juga disunnahkan untuk diikuti oleh seluruh jamaah laki-laki yang menghadiri shalat berjamaah tersebut, sementara jamaah perempuan tidak dianjurkan melakukannya demi menjaga kekhusyukan.
Mengutip penjelaskan ulama terkemuka Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah az-Zain, gerakan membalik selendang ini secara teologis dinamakan sebagai bentuk tafa’ul atau simbol optimisme yang sangat tinggi. Secara eksplisit, perubahan posisi kain secara lahiriah ini menggambarkan harapan besar seluruh jamaah agar Allah SWT segera mengubah keadaan hidup mereka dari masa sulit kekeringan menuju masa kelapangan dan ketentraman yang dipenuhi rahmat hujan.
Lebih jauh lagi, pembalikan selendang tersebut membawa pesan transformatif bahwa perubahan kondisi alam harus diawali dengan perubahan kualitas batin manusia itu sendiri. Pemindahan kain luar yang kasat mata menjadi cermin komitmen umat untuk mengubah sikap dalam, yaitu dengan memperbanyak istighfar, meninggalkan perbuatan maksiat, serta bertobat secara bersungguh-sungguh.
Melalui simbolisme ini, shalat istisqa mengajarkan bahwa karunia air dan rahmat dari langit sangat erat kaitannya dengan kesadaran manusia untuk membenahi diri dan mengakui keterbatasannya di hadapan Sang Pencipta.



