Aceh, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, memberikan pesan saat melantik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh masa khidmat 2026-2031.

Kiai Cholil, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa posisi dalam kepengurusan atau jabatan di NU merupakan sebuah amanah untuk berkhidmat dengan tanggung jawab besar.

"Kepengurusan yang baru dilantik bukan sekadar memperoleh jabatan, tetapi menerima amanah untuk berkhidmah dengan penuh keikhlasan, integritas, dan tanggung jawab," ujar Kiai Cholil dalam acara pelantikan yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Aceh, Sabtu (27/6/2026).

Wakil Ketua Umun MUI ini mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama harus tetap konsisten pada khitah dasarnya, yaitu menjadi rumah besar bagi umat yang menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus tampil sebagai pelayan masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta para pengurus segera bergerak dan tidak terjebak dalam euforia formalitas.

​"Mari kita menjadikan jabatan sebagai sarana pengabdian, bukan kebanggaan. Keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya kegiatan seremonial, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan umat serta semakin kuatnya persatuan dan ukhuwah Islamiyah," tegasnya.

Untuk mewujudkan khidmah yang nyata tersebut, Kiai Cholil memaparkan bahwa kekuatan NU bertumpu pada tiga pilar utama yang saling bertautan, yakni ulama, pesantren, dan jamaah.

Kiai Cholil mendorong PWNU Aceh agar segera memperkuat konsolidasi organisasi, tidak hanya di tingkat wilayah, tetapi turun hingga ke tingkat ranting (desa).

​"Pengurus harus memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting, memperkokoh pendidikan pesantren, serta menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tambahnya.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menyoroti pentingnya adaptasi di tengah derasnya arus zaman digital.

Menurutnya, mempertahankan tradisi keagamaan saja tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan inovasi yang relevan untuk generasi muda.

Oleh karena itu, lanjutnya, PWNU Aceh perlu melakukan transformasi dakwah yang ramah digital dan menyasar milenial serta Gen Z. Kemudiaan, mengembangkan sektor ekonomi umat dan penguatan lembaga pendidikan pesantren.

Kiai Cholil berharap, kepengurusan PWNU periode ini mampu memancarkan energi positif bagi kepengurusan NU di daerah lain. Mengingat Aceh memiliki sejarah emas dan posisi strategis dalam lembaran perjuangan Islam di Nusantara.

​"Aceh memiliki sejarah besar dalam perjuangan Islam di Nusantara. Oleh sebab itu, PWNU Aceh diharapkan mampu menjadi teladan dalam menjaga persatuan, merawat ukhuwah, serta mengembangkan dakwah yang moderat, bijaksana, dan membawa rahmat bagi seluruh masyarakat," pungkasnya.