إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِله إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه رَبُّ الَعَالَمِينَ وَقَيُّومُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرَضِينَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ , اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَابِعِينَ وَالْعَامِلِيْنَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيـْنِ . أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى, اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ. وقد قال الله تعالي في كتابه الكريم وهو أَصْدَقُ القائلينَ: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: -وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللّٰهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۗ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT…
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya berupa iman dan Islam serta ma’unah-Nya, sehingga kita dapat menjalankan ibadah Jumat berjamaah di masjid yang penuh berkah ini. Mudah-mudahan ‘amal dan ibadah ini menjadi amal baik kita dan kelak menjadi bekal untuk menghadap keharibaan-Nya. Amin ya Rabbal’alamin. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi terakhir, Muhammad SAW, yang telah menunjukkan manusia ke jalan kebenaran nan lurus, yaitu agama Islam yang diridhai oleh Allah SWT.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah…
Pesantren merupakan Lembaga yang mencetak santrinya menjadi manusia shalih dan muhsin. Shalih itu berarti menjadi manusia yang secara potensial mampu berperan aktif, berguna dan terampil dalam kehidupan sesama makhluk. Sedangkan muhsin, merupakan pencapaian maksimal dalam hubungannya dengan makhluk terhadap Khaliq, mencapai kedekatan dengan Allah SWT sekaligus bermanfaat terhadap sesama. Untuk ini, pesantren secara institusi menekankan pendalaman ilmu-ilmu keagamaan (tafaqquh fiddin) dan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Sebagaimana sejarah awal pendirian pesantren di Indoensia adalah keinginan belajar agama kepada guru yang dianggap mumpuni dan alim dalam bidang agama yang disebut kiai. Masyarakat hadir dari berbagai daerah untuntuk belajar ilmu agama kepada Sang Kiai. Biasanya mereka yang datang dari daerah yang jauh kemudian menetap untuk mengaji di sekitar rumah kiai sehingga tempat menetapnya disebut pondok atau pondokan. Artinya, Pendidikan pesantren itu berawal dari figur orang alim yang dihormati sehingga menarik perhatian masyarakat untuk belajar ilmu dari Sang Kiai. Semua itu karena menjalankan sabda Rasulullah SAW:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya: “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr).

Menurut Adnan Mahdi dalam artikel jurnal Islamic Review yang berjudul “Sejarah dan Peran Pesantren dalam Pendidikan di Indonesia” bahwa istilah pesantren mulai dikenal luas sejak masa wali songo pada abad ke-13 dan14, terlebih era Sunan Ampel. Hal ini didasarkan pada Babad Demak, sebuah karya tulis literatur klasik Jawa, yang menyebutkan bahwa pondok pesantren pertama kali tumbuh pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Masa ini berbarengan dengan periode kekuasaan Prabu Kertawijaya Majapahit.
Menurutnya, Sunan Ampel saat itu mendirikan padepokan di Ampel Surabaya sebagai pusat pendidikan di Jawa. Lalu para santri dari Pulau Jawa berdatangan menimba ilmu agama. Bahkan, ada juga yang berasal dari Gowa dan Tallo, Sulawesi. Padepokan Sunan Ampel inilah yang dianggap sebagai cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Indonesia. Salah seorang santri Sunan Ampel yang bernama Sunan Giri kemudian mendirikan pesantren Giri Kedaton. Sunan Giri mempunyai santri bernama Raden Patah yang kemudian menjadi raja pertama Kerajaan Demak. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa yang berada di bawah bimbingan para wali songo.
Dalam perkembangan selanjutnya, untuk mencetak santri menjadi tenaga-tenaga terampil yang mampu terjun ke masyarakatan dengan baik, maka harus dibekali dengan pengetahuan yang luas. Kebutuhan masyarakat akan pengetahuan semakin berkembang, sehingga apresiasi terhadap ilmu menjadi lebih tinggi. Ini mendorong pesantren secara bertahap, mengubah struktur dan sistem pendidikannya.
Transformasi itu tidak secara radikal mengubah dan menghapus sistem dan struktur pendidikan pesantren, namun lebih menekankan pemeliharaan cara lama yang masih relevan dan pengembangan sesuai dengan cara baru yang lebih baik (al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Hadirin, jamaah Jumat rahimakumullah…
Kedudukan pesantren bukan hanya dalam fungsi pendidikan, namun juga dalam fungsi dakwah dan fungsi pemberdayaan masyarakat sebagaimana dijelaskan dalam ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Pemberdayaan merupakan terjemahan dari empowerment, sedang memberdayakan adalah terjemahan dari empower. Menurut Oxford English Dictionary, kata empower memiliki dua arti, yaitu: 1) to give power atau autority to atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, 2) to give ability to atau enable atau usaha untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan.
Tujuan pemberdayaan didasarkan pada kebutuhan riil (real-needs) masyarakat, dan bukan sekadar kebutuhan yang dirasakan (feel needs). Idealnya kebutuhan yang dirasakan masyarakat adalah kebutuhan riilnya. Julian Rappaport menekankan pentingnya memahami dan mengatasi ketidaksetaraan sosial dan kekuatan dalam masyarakat. Teori pemberdayaan menekankan pemberian kekuatan kepada individu atau kelompok untuk mengontrol hidup mereka sendiri.
Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah mereka yang lemah dan tidak memiliki daya, kekuatan atau kemampuan mengakses sumberdaya produktif atau masyarakat yang terpinggirkan dalam pembangunan. Tujuan akhir dariproses pemberdayaan masyarakat adalah untuk memandirikan warga masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya.
Pemberdayaan masyarakat menyangkut tiga aspek penting, yaitu: 1) enabling, menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. 2) empowering, memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat melalui langkah-langkah nyata yang menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya. 3) protecting yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah (mustadl’afin).

Pesantren mempunyai potensi untuk melakukan pemberdayaan umat terutama dalam bidang ekonomi. Sebab pesantren tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Secara kultural pesantren telah diterima dan telah ikut serta membentuk dan memberikan corak serta nilai kehidupan kepada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Figur kiai, santri serta seluruh perangkat fisik dari sebuah pesantren membentuk sebuah kultur yang bersifat keagamaan yang mengatur perilaku seseorang dan pola hubungan dengan warga masyarakat. Tugas yang digarap pesantren bukan hanya soal-soal keagamaan, tetapi ikut larut dalam mencari solusi permasalahan dan pemberdayaan keumatan.
Pesantren memberikan kemudahan berupa akses kepada anak-anak dan pemuda sekitar. Mereka mengaji dan sekolah dengan datang ke pesantren dan setelah selesai pulang ke rumah atau tinggal di luar pesantren. Dalam istilah pesantren, perilaku ini disebut sebagai "santri kalong". Demikian pula masyarakat di sekitar pesantren untuk mengikuti pengajian harian dan pekanan di pesantren dengan mengaji kepada kiai dan asatidz sesuai dengan kebutuhannya.

Pada beberapa pesantren, para santri diberdayakan melalui program-program keterampilan seperti pertanian, peternakan, kerajinan tangan, kuliner, teknologi informasi, dan sebagainya. Hal ini memungkinkan untuk mendorong mereka memiliki keterampilan yang berguna dalam dunia kerja. Kemudian juga dapat berpartisipasi dalam membantu masyarakat terkait dengan pembangunan lokal. Pengembangan masyarakat berbasis pesantren juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap pemberdayaan perempuan dan difabel. Pesantren memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan difabel untuk mendapatkan pendidikan dan pengembangan diri.
Pesantren menjadi wadah dalam mendorong kesetaraan gender dan mengurangi kesenjangan sosial. Hal ini menjadi solusi atas hambatan kemajuan perempuan dan difabel. Pesantren juga berpartisipasi mendukung program Sustainibility Development Goals (SDGs). Utamanya dalam proses untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan seperti tujuan pendidikan, sosial, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Di antara pengembangan masyarakat berbasis pesantren adalah pemberdayaan ekonomi. Salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi pesantren adalah memberikan pelatihan keterampilan usaha, kewirausahaan dan bentuk kegiatan ekonomi lainnya, bertujuan sebagai penunjang dari tugas utama pondok pesantren yaitu memberi ilmu agama. Melalui keterlibatan peran, fungsi, dan perubahan yang ada, pesantren memegang kunci sebagai motivator, inovator, dan dinamisator di Masyarakat. Adanya hubungan antara pesantren dengan masyarakat menjadikan kedudukan pesantren menjadi kuat dalam memberdayakan masyarakat sekaligus menjadikan santrindan masyarakat menjadi mandiri karena bekerja dengan tangannya sendiri atau pebisnis yang jujur. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw.
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ: أَيُّ اَلْكَسْبِ أَطْيَبُ? قَالَ: – عَمَلُ اَلرَّجُلِ بِيَدِهِ, وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ – رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.
Dari Rifa’ah bin Raafi’ RA, bahwa Nabi SAW ditanya mengenai mata pencaharian yang paling baik? Nabi saw. menjawab, “Amalan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang baik (jujur).” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim).

Hadirin, jamaah Jumat rahimakumullah….
Pesantren juga memberikan pelajaran mengenai produksi dan manajemen ekonomi yang berkelanjutan. Pesantren turut mengajarkan pengelolaan aset dan potensi ekonomi sebagai bekal masa depan. Melalui program-program ekonomi seperti usaha mikro, koperasi, dan pemberdayaan ekonomi lainnya, pesantren mampu membantu meningkatkan edukasi dan kesejahteraan santri serta masyarakat sekitar.
Mengacu pada potensi ekonomi pesantren maka yang dapat dikembangkan diantaranya ialah: 1) Potensi produksi, Pesantren yang memiliki lahan yang cukup luas, memiliki banyak tenaga kerja dan teknologi untuk aktifitas produksi merupakan indikator bahwa pesantren merupakan institusi produsen dalam kegiatan ekonomi. Pesantren yang memiliki lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan dimana sektor tersebut memiliki potensi yang besar. Selanjutnya terhadap pesantren yang berfokus pada industri berskala kecil dan menengah sangat berpeluang menjadi pelaku industri. Pesantren dengan kekuatan keilmuan, kajian, dan telaah hukum Islam dapat berpeluang mejadi penerbit buku dan berperan di industri percetakan.
2) Potensi distribusi, bidang distribusi merupakan salah satu usaha dalam pemasaran produk dengan aktifitas menjual barang dan jasa secara langsung kepada konsumen. Dalam hal ini pesantren dengan potensi dimana memiliki relasi dan hubungan sosial, santri, dan para alumni akan dapat membangun bisnis sebagai distributor. 3) Potensi Konsumsi, konsumsi merupakan aktifitas yang sering dilakukan oleh manusia dalam kegiatan ekonomi. Banyaknya jumlah pesantren yang tersebar disetiap pelosok di Indonesial dengan jumlah santri yang banyak ialah hal yang berpotensi bagi pesantren dalam kegiatan ekonomi dibidang konsumsi. Kegitan konsumsi adalah aktivitas yang bersifat mengurangi atau menghabiskan manfaat dari hasil produksi baik berupa barang maupun jasa guna memenuhi kebutuhan.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berhasil manakala dibuat dengan manajemen yang baik, terstruktur yang efektif dan berkesinambungan. sebenarnya, semua pesantren memiliki potensi pengembangan ekonomi dan mempunyai peluang yang sama dalam pemberdayaan ekonomi umat. Persyaratannya ialah harus dimulai dari mengembangkan kapasitas kelembagaan yang dimilikinya dan dapat mengembangkan suatu budaya usaha untuk kemandirian ekonomi yang ditopang oleh dukungan elemen-elemen masyarakat yang sudah ada atau yang diciptakan.

Hadirin, jamaah Jumat rahimakumullah…
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua dan paling dekat dengan masyarakat memiliki peranan penting dalam melakukan pemberdayaan ekonomi umat di Indonesia. Pesantren memiliki sumber daya yang potensial sehingga layak dijadikan pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Cara yang bisa dilakukan pesantren dalam memberdayakan ekonomi umat terbagi dalam beberapa aspek, yaitu segi lapangan pekerjaan, peluang usaha serta pendirian badan usaha, lembaga keuangan dan/atau lembaga sosial pesantren dan edukasi santri. Aspek-apek tersebut dapat dikembangkan menjadi program-program yang lebih rinci dan terarah.
Pemberdayaan ekonomi umat berbasis pesantren penting untuk dilakukan karena Indonesia yang saat ini masih dalam jajaran negara berkembang sedang gencar-gencarnya menumpas kemiskinan sehingga dibutuhkan sebuah cara yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Pemberdayaan ekonomi umat berbasis pesantren ini sangat tepat dilakukan sambil berdakwah atau yang biasa disebut dengan dakwah pemberdayaan. Dakwah pemberdayaan ini selain bertujuan mensejahterakan masyarakat juga bertujuan mengedukasi masyarakat. Diharapakan, perekonomian masyarakat semakin membaik bersamaan dengan pengetahuan masyarakat tentang ajaran Islam, terutama ekonomi Islam.
Semoga seluruh upaya dan ijtihad kita diberi petunjuk oleh Allah SWT. Dan senantiasa selalu tertanam dalam diri kita apapun yang dilakukan semata-mata karena ikhlas dan mengharap ridha Allah SWT

إِنَّ أَحَسَنَ الكَلَامِ كَلاَمُ الله مَلِكِ العَلَّامِ وَاللهُ تَعَالى يَقُوْل وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي المُهْتَدُوْنَ. أَعُوذُ بـِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, بِسْمِ الله الرَّحْمن الرَّحِيْمِ , قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد. ﴿٤﴾ . بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
الخطبة الثانية
الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيْنَ