Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada dan memperkuat bekal ilmu keagamaan agar tidak mudah terkecoh oleh infiltrasi aliran sesat yang kini marak menyebar melalui media sosial.
Kiai Cholil mengungkapkan bahwa pesatnya perkembangan media sosial dan platform digital kini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menyebarkan pemahaman agama yang keliru. Fenomena ini dinilai sangat berbahaya karena dapat mengaburkan ajaran agama yang valid.
"Bahkan ada aliran sesat melalui infiltrasi dari media sosial. Di lapangan menemukan ada yang hadisnya tidak sama, pahamnya tidak sama. Ada yang hadisnya sama tapi pahamnya berbeda. Bahkan ada yang tidak ada hadisnya, tapi dibikin-bikin hadisnya," ujar Kiai Cholil, Kamis (6/8/2026).
Kiai Cholil menerangkan bahwa era digital yang sangat terbuka, siapa saja dapat mengemas narasi keagamaan dengan menarik, meskipun tidak didasari oleh kepakaran atau keilmuan yang jelas. Masyarakat pun rentan terkecoh jika hanya melihat tampilan luar atau kepopuleran suatu konten tanpa memeriksa kebenaran substansinya.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menekankan pentingnya menjaga validitas, orisinalitas, dan kejelasan transmisi ilmu keagamaan di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, pemahaman agama harus bersumber dari ilmu dan wahyu yang otentik, bukan sekadar opini subjektif atau konten instan di media sosial.
"Dunia makin mudah dijangkau dan diinteraksi secara real-time. Karena itu, tantangan ke depan akan lebih kompleks. Apa pun kalau dibekali dengan ilmu, tentu akan bisa dijawab dan ditangkal," tegasnya.
Rais Syuriah PBNU ini mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak malas belajar agama secara mendalam kepada para ahli dan tak sekadar mengandalkan kutipan-kutipan singkat di media sosial agar memiliki benteng keilmuan yang kuat.



