Jakarta, MCNID.net--Pemerintah Iran dan Oman berkomitmen melanjutkan perundingan strategis terkait keamanan Jalur Pelayaran Internasional Selat Hormuz. Langkah diplomasi ini tetap berjalan meski situasi kawasan kian memanas akibat eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS).


Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa dialog dengan Muscat berlangsung secara serius untuk merumuskan mekanisme yang menguntungkan kedua belah pihak sekaligus menjaga stabilitas maritim. Kendati demikian, ia mengakui proses negosiasi menghadapi hambatan besar.


"Perundingan antara Iran dan Oman terus berlangsung secara serius, dengan kedua pihak bertukar pandangan dalam pernyataan bersama," ujar Baghaei dalam konferensi pers, dikutip dari Antara, Senin (17/8/2026). 


Ia membeberkan tiga faktor utama yang memperumit proses diplomasi tersebut. Pertama, tingkat kerumitan isu. Sebab, topik yang dibahas mencakup regulasi keamanan maritim dan hak melintas yang sangat sensitif.


Kedua, keterlibatan banyak pihak. Baghaei menjelaskan bahwa dinamika regional melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan agenda berbeda.


Ketiga, kata dia, intervensi banyak pihak, sehingga adanya upaya dari sejumlah negara asing yang dinilai sengaja mengganggu jalannya dialog.


Tensi di kawasan Selat Hormuz melonjak drastis pasca-pernyataan Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli 2026 yang membatalkan kesepakatan gencatan senjata tanggal 18 Juni. Tak lama berselang, militer AS melancarkan rentetan serangan udara terhadap wilayah Iran.


Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim aksi militer tersebut merupakan respons atas tindakan Teheran yang dianggap mengganggu kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Menanggapi tuduhan dan serangan tersebut, militer Iran membalas dengan menggempur sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, sembari menuding Washington telah melanggar kesepakatan damai secara sepihak.


Di tengah aksi saling balas serangan militer ini, Oman terus berupaya menjalankan peran mediasi guna mencegah penutupan total jalur pasokan energi global tersebut.