Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, MUI Imbau Tunggu Hasil Isbat Pemerintah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui salah satu tokoh pentingnya, KH Cholil Nafis, mengimbau umat Islam di Indonesia untuk tetap menunggu dan mengikuti keputusan sidang isbat pemerintah terkait penetapan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri 2026. Imbauan ini disampaikan menyusul adanya prediksi perbedaan penetapan hari raya antara berbagai ormas Islam dan negara-negara lain, yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Menurutnya, dalam situasi seperti ini, sikap utama yang harus dijaga adalah ketenangan, ketaatan pada aturan syariat, serta menjaga ukhuwah Islamiyah.

KH Cholil Nafis menjelaskan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri secara fiqhiyah adalah hal yang dimungkinkan, karena adanya perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan, seperti rukyatul hilal dan hisab. Namun, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, MUI menekankan pentingnya merujuk kepada keputusan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang dilakukan dalam forum sidang isbat. Sidang ini, menurutnya, melibatkan para ahli falak, perwakilan ormas Islam, dan lembaga terkait, sehingga keputusan yang dihasilkan memiliki legitimasi ilmiah, syar'i, dan konstitusional.

Ia juga menegaskan bahwa menunggu keputusan pemerintah bukan berarti menafikan pendapat ulama atau ormas Islam lainnya, tetapi justru menjadi bentuk ijtihad jama'i untuk menyatukan langkah umat. Dengan mengikuti hasil sidang isbat, diharapkan pelaksanaan Idul Fitri dapat berlangsung lebih tertib, mengurangi silang pendapat yang berujung pada perpecahan, dan menjaga semangat persaudaraan di tengah keberagaman pemahaman fiqh. KH Cholil Nafis mengajak masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan kearifan, tidak saling menyalahkan, dan tetap mengutamakan nilai persatuan, sehingga Idul Fitri 2026 menjadi momentum menguatkan persaudaraan dan ketakwaan, bukan memunculkan perdebatan yang tidak perlu.

Lebih jauh, MUI melalui tokoh-tokohnya mengingatkan bahwa aspek terpenting dari Idul Fitri bukan hanya kepastian tanggalnya, tetapi bagaimana umat memaknai hari raya sebagai puncak dari pendidikan spiritual selama Ramadan. Dalam konteks itu, KH Cholil Nafis mengundang seluruh umat Islam untuk mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah, memperkuat keimanan, dan menjaga persatuan menjelang datangnya Syawal. Ia menekankan bahwa mengikuti keputusan yang diambil secara kolektif oleh pemerintah bersama para ulama adalah bagian dari ketaatan kepada ulil amri yang selaras dengan prinsip-prinsip syariat, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.


Sumber: Majelis Ulama Indonesia