Bogor, MCNid--Institut Pertanian Bogor (IPB) University menggelar acara Halal bi Halal bagi civitas akademika dengan menghadirkan Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis untuk memberikan tausiyah.

Dalam tausiyahnya, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis mengingatkan pentingnya memiliki kejernihan hati bagi umat Islam setelah melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan.

Ulama kelahiran Sampang, Madura, pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan, kejernihan hati membuat seseorang tidak memiliki rasa iri, dengki dan sombong, serta hidupnya hanya untuk meraih ridha Allah SWT.

Selain itu, Kiai Cholil menerangkan, orang yang memiliki kejernihan hati sudah pasti memiliki kecerdasan dalam hidupnya. Sementara orang cerdas, belum tentu memiliki kejernihan hati.

"Acara Halal bi Halal tidak hanya ceremonial, melainkan upaya untuk merawat kejernihan hati, antara lain, dengan saling silaturahmi dan saling memaafkan. Kejernihan hati juga akan melahirkan kecerdasan, terutama kecerdasan untuk menyelesaikan masalah," kata Kiai Cholil di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB University, Dramaga, Bogor, Rabu (1/4/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan, pengembangan diri manusia juga berangkat dari kejernihan hatinya. Menurutnya, kejernihan hati sangat penting bagi umat Islam, terutama mengenai tauhid, dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari dengan baik.

"Apabila sudah memiliki kejernihan hati dan bisa memilihara tauhid, hidup kita hanya kepada Allah. Ketika melakukan penelitian, bukan karena ingin dikutip, melainkan karena melaksanakan perintah Allah. Tidak ada kepentingan duniawi, tidak ada kepentingan diri, tapi semata-mata berpasrah diri kepada Allah," ujarnya.

*Ikhlas dan Yakin Jadi Jalan Memiliki Kejernihan Hati*

Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa yang melatih diri mengenai keyakinan dan keikhlasan. Salah satu sebabnya, seseorang yang berpuasa tidak bisa mengetahui amal ibadah puasanya dapat diterima atau tidak oleh Allah SWT.

"Dalam melaksanakan ibadah puasa, umat Islam diajarkan untuk memiliki rasa ikhlas dan yakin puasanya dapat diterima, selama puasanya itu benar, menjalankan kewajiban berdasarkan Alquran dan Hadist, dan hanya untuk Allah," terangnya.

Kiai Cholil menjelaskan, secara umum mengenai keyakinan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu _Ilmul Yaqin_ (keyakinan berdasarkan ilmu/informasi), _'Ainul Yaqin_ (keyakinan berdasarkan penglihatan/bukti), dan _Haqqul Yaqin_ (keyakinan berdasarkan pengalaman langsung/kebenaran hakiki).

"Dalam konteks ini, perbuatan kita di dunia ini seakan-akan melihat Allah, minimal kita merasa dilihat Allah. Bisa tidak kita berperilaku ihsan, bukan karena manusia, tetapi karena Allah. Begitu juga dalam memperlakukan manusia, harus karena Allah, bukan karena manusia, apalagi karena jabatannya," ujarnya.

CEO Amanah Zakat ini menerangkan, hal ini bisa tercermin ketika seseorang memperlakukan tamu yang berkunjung ke rumahnya. Seseorang yang memiliki kejernihan hati, akan menghormati siapapun tamunya itu karena Allah.

"Kalau orang bertamu ke rumah kita, kita gak berpikir apa-apa, hanya karena perintah Allah saya harus menghormati tamu, disitu sudah tingkatan ihsan. Maka kita sering menemukan kiai, habaib, kok orang jahat pun ketika silaturahim diperlakukan seperti orang soleh karena begitu dihormati," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Kiai Cholil mengajak muhasabah apakah sudah memiliki kejernihan hati, bukan hanya hubungan manusia kepada manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan Allah SWT.

"Ibadah puasa kita hanya Allah yang tau, berbeda dengan ibadah sholat, zakat, haji maupun yang lainnya yang bisa diketahui oleh orang lain ketika melaksanakannya. Puasa tidak mungkin ada yang tau kecuali mengaku, contohnya, 'maaf saya tidak bisa minum karena sedang puasa Syawal'," sambungnya.

Hadir dalam acara ini Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria dan Rektor IPB Dr Alim Setiawan Slamet beserta jajaran.

(Sadam)