Depok, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengajak umat Islam untuk senantiasa mengingat kematian sebagai sarana mawas diri sekaligus pemacu untuk menanam sebanyak-banyaknya amal kebaikan selama hidup di dunia.

Ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini menegaskan bahwa proses penuaan fisik dan tanda-tanda usia merupakan peringatan paling dekat bagi setiap jiwa bahwa kehidupan duniawi bersifat sementara.

"Tiap-tiap jiwa akan mati (kullu nafsin dzâiqatul maut). Itu peringatan yang paling dekat bahwa kita akan menua dan ditelan oleh tanah. Semua akan habis, tinggal apa? Tinggal amal baiknya," ujar Kiai Cholil saat mengisi pengajian rutinan Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mau’idzotul Mu’minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026).

Wakil Ketua Umum MUI ini mengibaratkan kehidupan dunia sebagai mazra’atul akhirah atau ladang tempat bercocok tanam. Menurutnya, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat menanam berbagai kebaikan yang hasilnya baru akan dipanen setelah kematian kelak.

"Banyak orang salah, mengira hasil tanamnya adalah rezeki materi sekarang, seperti kaya atau punya rumah. Itu bukan tujuan utama. Tujuan utama adalah kebahagiaan saat amal diterima di hadapan Allah," tuturnya.

Rais Syuriah PBNU ini menjelaskan bahwa syarat utama agar amal kebaikan bernilai di sisi Allah SWT adalah menjaga ketauhidan dari perbuatan syirik serta mendasari setiap ibadah, dzikir, dan doa dengan rasa ikhlas.

Selain amal pribadi, Kiai Cholil juga mengingatkan pentingnya menyiapkan "tabungan berkelanjutan" melalui pendidikan anak. Mengarahkan anak menjadi pribadi yang soleh, rajin berzikir, dan menghafal Alquran adalah investasi terbaik yang akan terus mengalirkan doa bagi orang tua meski sudah meninggal dunia.

"Kalau punya amal baik, jiwanya di akhirat kelak akan bahagia. Punya anak ngaji, anak yang zikir, anak di pesantren hafal Qur'an, itu nanti yang ngirim doa setiap saat buat orang tuanya. Itu tabungannya," kata Kiai Cholil.