Jakarta, MCNID.net– Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam), Letnan Jenderal TNI (Purn.) H Lodewijk Freidrich Paulus, menegaskan pentingnya penguatan geopolitik, geostrategi, dan ketahanan nasional berbasis Wawasan Nusantara di tengah eskalasi krisis global yang semakin kompleks.


Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam Pleno VI bertajuk "Politik dan Keamanan Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Internasional" pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026).


Dalam paparannya, Lodewijk menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi akumulasi berbagai krisis yang dikenal sebagai The Perfect Storm 4C, meliputi konflik geopolitik (conflict), gejolak harga komoditas (commodity), meningkatnya biaya hidup (cost of living), serta perubahan iklim (climate change). Menurutnya, dinamika tersebut memberikan dampak langsung terhadap stabilitas nasional, mulai dari aspek ideologi, politik, ekonomi, hingga pertahanan dan keamanan.


"Kondisi global ini saat ini diwarnai dengan yang namanya 4C Perfect Storm. Pertama terkait dengan konflik. Konflik terjadi di sana, tetapi itu berdampak ke kita, baik dari aspek militer maupun ekonomi," ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa konflik antarnegara mendorong kenaikan harga komoditas strategis seperti batu bara dan gas, yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya hidup masyarakat.


"Kalau komoditas ini sudah naik, pasti cost of living juga berpengaruh. Cost of living ini kalau tidak kita kontrol, akan berdampak kepada keamanan," katanya.


Dalam kesempatan tersebut, Lodewijk juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah menguatnya politik identitas. Menurutnya, nilai-nilai agama harus menjadi perekat persatuan, bukan dijadikan alat untuk memecah belah bangsa.


"Identitas agama dapat menjadi kekuatan pemersatu, tetapi juga dapat menjadi alat pemecah belah jika dieksploitasi untuk kepentingan politik. Menjaga harmoni, memperkuat persatuan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan identitas adalah kunci stabilitas dan kemajuan Indonesia," tegasnya.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa arah geostrategi Indonesia tetap berlandaskan Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. Di bidang pertahanan, Indonesia juga harus memiliki kesiapsiagaan menghadapi berbagai dinamika keamanan global.


"Jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang (Si Vis Pacem, Para Bellum). Kebijakan luar negeri Indonesia tetap berprinsip politik bebas aktif, tidak memihak blok adidaya manapun, serta memegang prinsip 'seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak'," ujarnya.


Lodewijk menambahkan, implementasi geostrategi nasional dijalankan melalui Visi dan Misi Presiden yang diwujudkan dalam Asta Cita, 17 Program Prioritas, dan 8 Program Hasil Terbaik Cepat. Program-program tersebut mencakup penguatan kemandirian pangan dan energi, perlindungan sosial sepanjang hayat, serta hilirisasi industri.


Menurutnya, sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 141 Tahun 2024, Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan terus mengawal sinkronisasi dan koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memperkuat ketahanan nasional sebagai fondasi menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.