Jakarta, MCNID.net--8Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali diingatkan pada keberanian para pemuda Indonesia yang pada 1928 menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa selalu membutuhkan generasi muda yang memiliki visi, keberanian, dan kesediaan untuk bekerja bersama.
Hari ini, tantangan pemuda berbeda. Kita hidup di tengah perkembangan kecerdasan buatan, perubahan teknologi, derasnya arus informasi, dan persaingan global. Anak muda dapat belajar dari mana saja, membangun usaha melalui platform digital, bahkan menciptakan karya yang menjangkau dunia. Namun, kemudahan itu juga menghadirkan risiko: hoaks, manipulasi informasi, penyalahgunaan teknologi, dan lunturnya tanggung jawab dalam kehidupan digital.
Di tengah perubahan ini, di mana posisi pemuda santri?
Pemuda santri tidak boleh hanya menjadi penonton kemajuan zaman. Mereka memiliki tradisi keilmuan, kedisiplinan, dan nilai keagamaan yang dapat menjadi bekal untuk ikut membangun Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana memadukan kekuatan tersebut dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kecakapan digital, dan kemampuan menciptakan solusi bagi masyarakat.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kenyataan yang perlu dirawat dalam semangat persatuan. Bagi generasi muda, termasuk para santri, semangat itu perlu diwujudkan melalui ilmu, integritas, kreativitas, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Bukan Sekadar Mengikuti Zaman
Mengapa persoalan ini penting dibicarakan sekarang? Karena perubahan teknologi bukan lagi urusan para ahli komputer atau perusahaan besar semata. Dampaknya merambah dunia pendidikan, ekonomi, pekerjaan, bahkan cara manusia memahami informasi dan mengambil keputusan.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum memperkirakan bahwa hingga 2030, perubahan pasar kerja akan menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru sekaligus menggantikan sekitar 92 juta pekerjaan yang ada. Secara keseluruhan, laporan tersebut memproyeksikan pertambahan bersih 78 juta pekerjaan. Angka ini merupakan proyeksi global, bukan kepastian bahwa setiap pekerjaan akan berubah dengan cara yang sama. Namun, pesannya jelas: kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri akan semakin penting.
Pemuda santri juga akan menghadapi perubahan itu, apa pun profesi yang kelak mereka pilih. Mereka mungkin menjadi guru, pengusaha, petani, peneliti, pengelola lembaga pendidikan, aparatur negara, atau penggerak masyarakat. Teknologi bisa menjadi bagian dari pekerjaan mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Karena itu, membicarakan teknologi di pesantren bukan berarti memaksa semua santri menjadi programmer. Yang lebih mendasar adalah memastikan mereka tidak kehilangan kesempatan untuk memahami perubahan yang memengaruhi kehidupannya.
Pemuda santri perlu memiliki pilihan: mampu menggunakan teknologi ketika dibutuhkan, memahami risikonya, dan ikut menciptakan solusi apabila memiliki kesempatan.
Lebih jauh, mereka perlu melihat penguasaan teknologi sebagai salah satu bekal untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Santri yang memahami teknologi dapat membantu mengembangkan usaha di daerahnya, memperluas akses pendidikan, memperkuat pelayanan masyarakat, dan menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.
Semangat kebangsaan tidak cukup diwujudkan melalui upacara dan pengibaran bendera. Semangat itu juga hidup dalam kesungguhan belajar, keberanian menghasilkan karya, dan kesediaan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki keadaan.
Kitab, Sains, dan Teknologi Bisa Berjalan Bersama
Salah satu kekuatan pesantren adalah tradisi keilmuan yang tidak hanya berbicara tentang pengetahuan, tetapi juga adab dalam mempelajarinya. Ada proses berguru, membaca, mengkaji, berdiskusi, menguji pemahaman, dan menghormati ilmu.
Nilai-nilai itu justru relevan ketika teknologi menawarkan jawaban secara instan.
Kecerdasan buatan, misalnya, dapat membantu menjelaskan istilah, merangkum bacaan, atau memberikan gambaran awal tentang suatu persoalan. Namun, jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, mencampuradukkan sumber, atau memberikan penjelasan yang tidak sesuai konteks.
Dalam kajian keislaman, hal ini perlu menjadi perhatian. Teknologi dapat membantu proses pencarian dan pembelajaran, tetapi tidak semestinya menggantikan proses memahami teks, memeriksa rujukan, dan berguru kepada orang yang memiliki kompetensi keilmuan.
Begitu pula dalam sains. Mempelajari cara kerja alam tidak harus dipertentangkan dengan keyakinan agama. Pengetahuan ilmiah membantu manusia memahami proses dan gejala alam, sementara nilai dan refleksi etis membantu manusia mempertimbangkan bagaimana pengetahuan itu digunakan.
Integrasi ilmu tidak cukup diwujudkan dengan menambahkan pelajaran komputer ke dalam kurikulum. Lebih dari itu, santri perlu dibiasakan menghubungkan pengetahuan dengan persoalan kehidupan, serta mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang mereka ambil.
Dalam semangat Sumpah Pemuda, kemampuan tersebut juga dapat menjadi jembatan untuk bekerja sama dengan generasi muda dari berbagai latar belakang. Pemuda santri dapat berdialog dengan mahasiswa, ilmuwan, pelaku usaha, komunitas teknologi, dan kelompok masyarakat lainnya. Perbedaan tradisi pendidikan maupun cara pandang tidak seharusnya menutup ruang kolaborasi selama tujuan bersama adalah menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Menguasai teknologi adalah keterampilan. Menggunakannya secara bijaksana adalah tanggung jawab.
AI Bisa Keliru, Integritas Pemuda Diuji
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membedakan fakta dan manipulasi menjadi semakin penting. Video dapat dipotong dari konteksnya, suara dapat ditiru dengan teknologi, dan gambar yang tampak nyata belum tentu merekam peristiwa yang sebenarnya.
Konten yang ramai dibagikan juga tidak otomatis benar. Bahkan, informasi yang mengatasnamakan tokoh agama atau memuat kutipan keagamaan tetap perlu diperiksa sumber dan konteksnya.
Di sini literasi digital bertemu dengan nilai yang telah lama dikenal dalam tradisi Islam: tabayun, atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil sikap.
Tabayun dalam kehidupan digital bukan hanya soal membaca ulang pesan sebelum meneruskannya. Ia juga berarti menelusuri sumber asli, membandingkan informasi, memperhatikan waktu dan konteks, serta bersedia menunda kesimpulan ketika bukti belum cukup.
Prinsip yang sama berlaku saat menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. Teknologi dapat membantu seseorang memahami materi, tetapi menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin tanpa memahami isinya justru menghilangkan kesempatan untuk belajar.
Persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan menggunakan teknologi secara jujur, kritis, dan bertanggung jawab.
AI bisa membantu menyusun jawaban, tetapi manusialah yang bertanggung jawab atas jawaban yang disampaikan. AI bisa menghasilkan konten, tetapi penggunanya tetap bertanggung jawab ketika konten itu menyebarkan fitnah atau merugikan orang lain.
Bagi pemuda Indonesia, integritas digital juga berkaitan dengan persatuan. Informasi palsu yang disebarkan tanpa pemeriksaan dapat merusak kepercayaan, memperbesar prasangka, dan memicu pertentangan di tengah masyarakat. Karena itu, menjaga ruang digital tetap sehat merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
Semangat Sumpah Pemuda pada masa kini bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan justru membutuhkan kemampuan untuk berbeda pendapat tanpa menyebarkan kebencian, berdiskusi tanpa merendahkan, dan memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan.
Dari Pengguna Menjadi Pencipta Solusi
Pemuda santri tidak harus menunggu sampai menjadi ahli teknologi untuk mulai berinovasi. Banyak persoalan di sekitar mereka yang dapat menjadi ruang belajar.
Perpustakaan pesantren, misalnya, dapat mulai membangun katalog digital sederhana agar koleksi buku lebih mudah ditemukan. Kegiatan kewirausahaan dapat memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan produk. Pengelolaan lingkungan dapat dimulai dengan pencatatan penggunaan air, pemilahan sampah, atau pemantauan kebersihan secara berkala.
Bagi pesantren yang memiliki sumber daya dan pendamping yang memadai, langkah tersebut bisa dikembangkan lebih jauh. Sistem informasi dapat membantu mengintegrasikan data akademik, perpustakaan, komunikasi dengan wali santri, dan pengelolaan donasi agar lebih tertata dan transparan.
Di bidang pembelajaran kitab, misalnya, teknologi pencarian dokumen dapat dirancang untuk membantu santri menemukan istilah atau bagian teks yang relevan. Jika dikembangkan dengan baik, sistem semacam ini bisa memudahkan penelusuran sumber. Namun, ketepatan teks, konteks pembahasan, dan penjelasan keagamaan tetap harus diperiksa oleh guru atau ahli yang kompeten.
Contoh-contoh tersebut bukan tuntutan agar setiap pesantren segera membangun aplikasi sendiri. Tidak semua pesantren memiliki perangkat, jaringan internet, biaya, atau tenaga pendamping yang sama. Inovasi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Ada pesantren yang perlu memulai dari akses komputer bersama. Ada yang dapat menyelenggarakan pelatihan literasi digital. Ada pula yang siap mengembangkan proyek teknologi bersama perguruan tinggi atau komunitas.
Di sinilah ruang kontribusi pemuda menjadi penting. Mereka dapat memulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyusun gagasan, mencoba solusi, lalu menilai apakah solusi itu benar-benar membantu.
Semangat kebangsaan tidak berhenti pada kecintaan terhadap simbol negara. Ia juga diwujudkan melalui kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat, membuka kesempatan ekonomi, memperluas akses pengetahuan, dan menghadirkan teknologi yang bermanfaat bagi sesama.
Yang penting, santri tidak hanya menjadi pengguna hasil inovasi orang lain. Mereka juga diberi kesempatan untuk memahami persoalan, mengembangkan gagasan, mencoba solusi, dan mengevaluasi manfaatnya.
Kuat Nilai Berarti Peduli pada Sesama dan Lingkungan
Teknologi yang canggih belum tentu membawa kemajuan jika manfaatnya hanya dinikmati sebagian orang, sementara dampak buruknya ditanggung masyarakat luas. Karena itu, pembicaraan tentang pemuda santri masa depan perlu mencakup tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Persoalan sampah, pencemaran air, kerusakan hutan, dan perubahan iklim membutuhkan pengetahuan sekaligus kepedulian. Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan hingga keberlanjutan sumber pangan dan air.
Dalam Islam, tanggung jawab merawat bumi sejalan dengan pesan Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 56 yang melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.
Nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Santri dapat terlibat dalam program pengurangan sampah, penghijauan, penghematan air, dan pendataan kondisi lingkungan sekitar pesantren. Jika tersedia dukungan teknologi, mereka bisa memanfaatkan sensor sederhana untuk memantau penggunaan air atau membuat pencatatan digital untuk mengevaluasi pengelolaan sampah.
Namun, perangkat bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah perubahan perilaku dan kemampuan melihat persoalan secara terukur. Teknologi berguna ketika membantu manusia memahami masalah dan memperbaiki keadaan.
Kepedulian terhadap lingkungan juga dapat menjadi ruang kerja bersama bagi pemuda dari berbagai latar belakang. Menjaga sungai, mengurangi sampah, menanam pohon, dan melindungi sumber air merupakan kepentingan bersama yang melampaui perbedaan identitas. Dari kegiatan seperti ini, persatuan tidak hanya menjadi gagasan, tetapi tumbuh melalui kerja nyata.
Tanggung jawab terhadap sesama juga mencakup cara kita memperlakukan diri sendiri. Kehidupan digital yang dipenuhi notifikasi, arus berita, dan tuntutan untuk selalu terhubung dapat mengganggu konsentrasi serta waktu istirahat. Karena itu, kecakapan digital perlu disertai kemampuan mengatur penggunaan teknologi.
Disiplin waktu, ibadah berjamaah, interaksi langsung, dan kesempatan beristirahat dari gawai dapat membantu menjaga keseimbangan. Bukan karena teknologi harus dijauhi, melainkan karena teknologi seharusnya tetap menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan menguasainya.
Pesantren Perlu Menyiapkan Ruang untuk Tumbuh
Semua gagasan itu akan sulit terwujud jika berhenti sebagai slogan. Pesantren membutuhkan ruang belajar yang memungkinkan santri mencoba, bertanya, melakukan kesalahan, memperbaiki hasil, dan menghasilkan karya.
Langkah pertama dapat dimulai dari literasi digital dasar: memeriksa informasi, menjaga keamanan akun, melindungi data pribadi, dan memahami risiko penggunaan AI. Kemampuan tersebut dapat dibangun secara bertahap tanpa harus menunggu tersedianya fasilitas yang lengkap.
Langkah berikutnya adalah pembelajaran berbasis proyek. Santri dapat membuat media edukasi, mengembangkan katalog perpustakaan, mendokumentasikan pengetahuan lokal, atau merancang program lingkungan. Proyek yang baik tidak harus rumit; ia perlu berangkat dari masalah nyata dan menghasilkan manfaat yang dapat dinilai.
Pesantren juga dapat membangun kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas literasi, praktisi teknologi, dan dunia usaha. Kolaborasi membantu membuka akses terhadap pendampingan dan pengalaman yang mungkin belum tersedia di lingkungan pesantren.
Kerja sama tersebut sekaligus dapat mempertemukan pemuda santri dengan generasi muda dari berbagai daerah dan bidang keahlian. Semangat persatuan yang diwariskan Sumpah Pemuda perlu memperoleh ruang aktualisasi melalui kegiatan bersama, pertukaran pengetahuan, dan penciptaan solusi bagi kepentingan masyarakat.
Yang tidak kalah penting adalah menempatkan etika sebagai bagian dari setiap kegiatan. Ketika membuat aplikasi, santri perlu memahami privasi dan keamanan data. Ketika menggunakan AI, mereka perlu menjaga kejujuran akademik. Ketika menyebarkan informasi, mereka perlu memeriksa kebenarannya. Ketika menciptakan inovasi, mereka perlu mempertimbangkan siapa yang terbantu dan siapa yang mungkin dirugikan.
Dengan begitu, pembelajaran teknologi tidak terpisah dari pembentukan karakter. Keterampilan berkembang bersama tanggung jawab.
Pesantren juga perlu memberi ruang bagi keberagaman potensi santri. Tidak semua harus menjadi ahli teknologi. Ada yang unggul dalam pendidikan, kewirausahaan, penelitian, pertanian, pelayanan sosial, seni, maupun pengembangan masyarakat. Semua bidang tersebut dapat menjadi jalan pengabdian jika dijalankan dengan ilmu, integritas, dan kepedulian.
Masa Depan Pemuda Santri Dibangun Mulai Sekarang
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa Indonesia dibangun melalui persatuan dan cita-cita bersama. Bagi pemuda santri hari ini, semangat itu perlu diterjemahkan menjadi keberanian untuk belajar, menguasai teknologi, menciptakan inovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kita tidak perlu membayangkan bahwa semua santri akan menjadi ilmuwan, pengusaha teknologi, atau ahli kecerdasan buatan. Masa depan mereka akan beragam, sebagaimana beragam pula potensi dan kondisi pesantren di Indonesia.
Namun, apa pun jalan yang mereka pilih, kemampuan untuk terus belajar, berpikir kritis, beradaptasi, menjaga integritas, dan bekerja sama akan semakin berharga.
Pesantren memiliki kesempatan untuk mempertemukan kekuatan tradisi keilmuan dengan kebutuhan masa depan. Bukan dengan mengikuti setiap tren secara membabi buta, melainkan dengan memilih teknologi yang bermanfaat, menguji informasi yang meragukan, dan menolak penggunaan teknologi yang merugikan.
Indonesia membutuhkan pemuda yang mampu berpikir kritis tanpa kehilangan kepedulian, berani berinovasi tanpa meninggalkan etika, dan memiliki kemampuan bersaing tanpa melupakan persatuan.
Pemuda santri tidak harus memilih antara tradisi dan inovasi. Mereka dapat mendalami kitab sekaligus mempelajari sains, menjaga akhlak sekaligus menciptakan solusi, serta memegang teguh nilai agama sambil terus memperluas pengetahuan.
Semangat Sumpah Pemuda juga mengingatkan bahwa kemajuan bangsa bukan pekerjaan satu kelompok saja. Ia membutuhkan kontribusi seluruh generasi muda yang bersedia bekerja bersama, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Jago teknologi, kuat nilai, teguh dalam persatuan, dan nyata dalam pengabdian. Itulah semangat pemuda santri untuk Indonesia masa depan.
Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dikenang setiap 28 Oktober. Ia harus hidup dalam ilmu yang dipelajari, karya yang diciptakan, persatuan yang dirawat, dan manfaat yang diberikan bagi bangsa.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Saatnya pemuda santri mengambil bagian, berkarya, dan mengabdi untuk Indonesia.
Penulis:
Ahmad Jojon Novandri, MA.Pol, Tenaga Ahli Menteri Agama RI, menulis tentang pendidikan, ekoteologi, kebijakan publik, dan penguatan nilai dalam menghadapi perubahan zaman.
Sumpah Pemuda, Semangat Santri: Menguasai Teknologi, Menjaga Jati Diri
📅 28 Oktober 2026✍️ SadamOpini



