Jakarta, MCNID.net-Bursa kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Berbagai figur potensial yang mewakili beragam latar belakang mulai mencuat ke permukaan publik. Menanggapi dinamika tersebut, Direktur Eksekutif Jaringan Muslim Madani (JMM), Syukron Jamal, menilai bahwa kontestasi kali ini menyuguhkan ruang kompetisi yang menarik karena setiap tokoh membawa modal sosial, pengalaman, dan karakter kepemimpinan yang bervariasi.
"Saya melihat masing-masing kandidat mempunyai modal sosial dan karakter kepemimpinan yang berbeda. Karena itu, saya tidak ingin mengatakan siapa yang paling baik atau paling buruk. Saya lebih melihat dari perspektif modal kepemimpinan yang mereka miliki," ujar Syukron Jamal, Sabtu (22/8/2026).
Dalam analisisnya, akademisi UIN Jakarta ini membedah profil serta pemetaan potensi dari para tokoh yang digadang-gadang masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU tersebut.
1. KH Yahya Cholil Staquf (Petahana)
Syukron Jamal menilai, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mempunyai keunggulan pada pengalaman memimpin PBNU dan jejaring internasional.
Menurutnya, Gus Yahya mempunyai kapasitas intelektual serta kemampuan membawa isu-isu keislaman NU ke ruang global.
"Tantangannya adalah bagaimana memastikan konsolidasi internal organisasi semakin kuat dan bagaimana menjembatani berbagai kelompok yang memiliki persepsi berbeda terhadap kepemimpinannya," ungkapnya.
2. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
Syukron Jamal mengungkapkan, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) memiliki modal yang sangat kuat dari sisi pesantren, sejarah dan kultur NU, khususnya karena basisnya di Tebuireng dan Jawa Timur.
"Yang menarik, pencalonannya bukan sekadar dorongan personal, tetapi merupakan penugasan PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur. Ini memberikan modal legitimasi struktural yang signifikan," tuturnya.
Syukron Jamal mengungkapkan, tantangan bagi Gus Kikin adalah mengubah modal historis dan struktural tersebut menjadi dukungan nasional yang lebih luas.
3. KH Imam Jazuli
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Jawa Barat ini dinilai merepresentasikan kombinasi pesantren, pendidikan dan intelektualisme.
Syukron Jamal menerangkan, latar belakang pendidikan Islam dan pengalaman akademiknya memberi warna berbeda dalam bursa ini.
"Ia juga membawa gagasan agar warga NU tidak hanya ber-NU secara tradisional, tetapi mempunyai kesadaran intelektual dan ideologis. Tantangannya adalah membangun konsolidasi politik-organisatoris yang cukup kuat di struktur NU," terangnya.
4. KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Syukron Jamal menilai, Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah ini mempunyai modal sosial yang kuat dari tradisi pesantren dan jaringan kultural NU, terutama Jawa Tengah.
Gus Yusuf dinilai memiliki pengalaman dakwah dan organisasi yang membuatnya relatif dekat dengan akar rumput pesantren.
Namun, Syukron Jamal mengungkapkan, tantangan yang dihadapi Gus Yusuf adalah bagaimana mengkonversi modal kultural tersebut menjadi kepemimpinan nasional yang mampu merangkul seluruh spektrum NU.
5. KH Marsudi Syuhud
Syukron Jamal mengatakan, Kiai Marsudi Syuhud memiliki pengalaman yang kuat dalam komunikasi keagamaan, organisasi dan hubungan lintas kelompok.
"Modalnya sebagai Wakil Ketua Umum MUI juga memperlihatkan pengalaman dalam ruang keumatan yang lebih luas. Dukungan terhadap namanya juga muncul dari sejumlah daerah," terangnya.
Namun, kata Syukron Jamal, tantangannya adalah membangun basis dukungan struktural yang solid karena kompetisi Ketua Umum PBNU pada akhirnya sangat ditentukan oleh konfigurasi muktamirin dan struktur organisasi.
6. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Ketua PWNU Jawa Tengah ini dinilai memiliki modal yang menarik karena pengalaman mengelola organisasi NU, khususnya di Jawa Tengah. Selain itu, Ia juga secara terbuka menyatakan kesiapan maju dan membawa agenda pembenahan organisasi.
"Dari perspektif kepemimpinan, ia mempunyai potensi menjadi figur reformis-organisatoris. Tantangannya adalah memperluas daya jangkau dukungan dari basis regional menuju konsensus nasional," tuturnya.
7. Hery Haryanto Azumi (Gus Hery)
Mantan Ketua Umum PMII ini dinilai mempunyai karakter berbeda. Syukron Jamal menyebut Gus Hery mempunyai pengalaman aktivisme dan jaringan kader muda, khususnya melalui pengalaman di PMII.
"Modal ini penting karena NU membutuhkan regenerasi dan kemampuan membaca aspirasi generasi muda. Tantangannya adalah mengkonversi modal aktivisme tersebut menjadi legitimasi struktural yang kuat di dalam Muktamar," tuturnya.
8. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'rif Denanyar Jombang ini dinilai memiliki modal historis dan kultural yang sangat kuat karena berasal dari lingkungan pesantren dan memiliki hubungan genealogis dengan tradisi ulama pendiri NU
"Nama Gus Salam juga memperoleh perhatian sebagai figur yang dianggap dapat mengembalikan orientasi NU kepada khittah dan tradisi pesantren. Tantangannya adalah memastikan modal genealogis dan kultural tersebut diterjemahkan menjadi konsolidasi organisasi yang inklusif dan nasional," tuturnya.
9. KH M Cholil Nafis
Menurut Direktur Esekutif JMM ini menilai, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat tersebut perlu ditempatkan agak berbeda.
Syukron Jamal mengungkapkan, Rais Syuriah PBNU ini namanya memang masuk dalam ruang diskusi bursa. Namun, Syukron Jamal melihatnya belum terlalu serius.
"Meski begitu beliau juga punya cukup kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni. Beliau
memiliki modal intelektual dan pengalaman luas dalam isu keumatan, komunikasi publik serta organisasi keagamaan," kata Syukron Jamal.
10. KH Nasaruddin Umar
Menurutnya, KH Nasaruddin Umar memiliki kombinasi modal keulamaan, intelektualitas, pengalaman struktural di NU dan pengalaman kenegaraan sebagai Menteri Agama. Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga disebut masuk dalam bursa dan mendapat dorongan dari sejumlah kalangan NU.
"Jadi, kalau saya sederhanakan, ada beberapa tipe modal yang sedang berkompetisi: modal incumbent dan internasional, modal pesantren-historis, modal struktural-organisatoris, modal intelektual, modal kebangsaan, serta modal regenerasi kader muda," tegasnya.



