Depok, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Mohammad Nuh, menyatakan bahwa era kepemimpinan personal (personal leadership) di tubuh organisasi telah usai. Menurutnya, Nahdlatul Ulama saat ini membutuhkan model kepemimpinan kolektif (collective leadership) yang mengandalkan kebersamaan.


Pernyataan tersebut disampaikan Prof Nuh saat menghadiri Bahtsul Masail Pra Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).


"Dari kajian ini, maka sekali lagi ini semakin memperkuat bahwa kepemimpinan yang sifatnya personal leadership sudah selesai. Kita harus membangun collective leadership, kebersamaan-kebersamaan," tegas Prof Nuh.


Ia membeberkan riset yang menunjukkan bahwa kontribusi seorang pemimpin terhadap keberhasilan organisasi hanyalah 20 persen, sedangkan 80 persen sisanya ditentukan oleh soliditas pengikutnya. Oleh karena itu, pergeseran ke arah kepemimpinan kolektif menjadi krusial agar NU tidak lagi terjebak dalam kompetisi individu yang memicu rivalitas.


Lebih lanjut, Prof Nuh menyinggung usulan mekanisme baru yang sempat mengemuka pada Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Ploso. Dalam skema tersebut, setiap Pengurus Cabang (PC) maupun Pengurus Wilayah (PW) tidak hanya mengusulkan satu nama calon, melainkan beberapa nama.


Nama-nama tersebut nantinya diranking, lalu pemilihan akhir diserahkan penuh kepada Rais 'Aam bersama anggota Ahlul Halli wal 'Aqdli (Ahwa). Skema ini dinilai lebih mengedepankan musyawarah mufakat ketimbang mengandalkan mekanisme pemungutan suara (voting).