Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, membagikan kisah personal yang mendalam mengenai perjalanan hidupnya sebagai seorang anak yatim sejak belia. Pengalaman emosional tersebut diungkapkannya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @cholilnafis, pada Jumat (21/8/2026).


Dalam unggahan tersebut, Kiai Cholil mengenang masa-masa sulit saat sang ayah, H. Hasanudin, berpulang ke Rahmatullah. Kala itu, Kiai Cholil baru berusia 15 tahun dan tengah menimba ilmu sebagai santri kelas II Tsanawiyah di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. 


Kepergian sang ayah menjadi titik balik kehidupan Kiai Cholil muda. Seminggu sebelum menghembuskan napas terakhir, almarhum sang ayah sempat meminta Kiai Cholil untuk pulang dari pesantren demi menyampaikan sebuah pesanan penting yang terus teringat hingga hari ini. Sang ayah berpesan agar Kiai Cholil tidak pernah berhenti menuntut ilmu dalam kondisi apa pun.


"Kamu jangan berhenti di jalan ya untuk terus belajar. Lanjutkan terus belajarnya. Kalau tak ada biaya, langgar rumah itu pun dijual untuk biayai sekolahmu," ungkap Kiai Cholil menirukan pesan mendalam almarhum ayahnya.


Rais Syuriah PBNU ini menceritakan bahwa pesan tersebut sering kali menjadi bahan kenangan hangat saat keluarga besar berkumpul. Kebersamaan itu kerap diwarnai gelak tawa karena mereka menyadari harga bangunan langgar (musholla kecil) keluarga tersebut sebenarnya tidak seberapa, namun nilai keikhlasan dan dorongan semangat belajar dari sang ayah sangat tidak ternilai.


Pengalaman menjadi anak yatim di usia remaja tidak menyurutkan tekadnya untuk melangkah. Dukungan penuh juga terus mengalir dari sang ibu, Hj. Nafisah, yang mendampingi perjalanan hidupnya hingga Kiai Cholil tumbuh dewasa, beristri, dan dikaruniai empat orang anak sebelum akhirnya sang ibu wafat saat beliau berusia 39 tahun.


Kini, sebagai seorang anak yatim piatu yang berhasil menjadi ulama terkemuka, Kiai Cholil menekankan bahwa segala impian dan amanah orang tua yang dahulu terasa mustahil akhirnya bisa terealisasi. Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini, keteguhan tekad serta takdir Allah SWT adalah kunci utama dalam menghadapi segala cobaan hidup.


"Namun jika kita punya tekad dan Allah SWT berkehendak, semuanya tak ada yang tak mungkin dan tak ada yang sulit," tulisnya mengakhiri kisah kenangannya sembari memohon doa Al-Fatihah untuk kedua orang tuanya.