Jakarta, MCNID.net--Lembaga pendidikan pesantren kembali membuktikan peran strategisnya tidak hanya sebagai pusat syiar keagamaan, tetapi juga sebagai wadah penggemblengan karakter yang menempa para santri agar tangguh menghadapi segala realita kehidupan.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengatakan keunggulan dari sistem pendidikan pesantren terletak pada penanaman nilai-nilai moral dan mentalitas yang membuat para santri siap ditempatkan dalam kondisi apa pun, baik dalam kesederhanaan maupun kelimpahan.

​"Pendidikan pesantren bukan sekadar pengajaran ilmu, tetapi adalah pendidikan karakter, pendidikan terhadap nilai-nilai yang dianutnya, dan membuat santri lebih teguh di dalam menjalani kehidupan. Dari situ kita diajarkan untuk siap dalam kondisi apa pun," ujar Kiai Cholil dalam refleksi peringatan Hari Santri di Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).

Mengenang masa-masa saat dirinya menjadi santri, Kiai Cholil menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari di pondok pesantren secara alamiah melatih kemandirian dan daya tahan mental. Berada jauh dari orang tua sejak usia sekolah dasar (SD) memaksanya mengurus seluruh kebutuhan pribadi secara mandiri, mulai dari mencuci baju, merapikan alat mandi, hingga mengelola anggaran hidup.

Kondisi keprihatinan yang dialami semasa nyantri justru menjadi modal utama dalam membentuk mentalitas yang fleksibel dan tidak gampang mengeluh saat berhadapan dengan dinamika kehidupan dewasa.

​"Kondisi tidak nyaman, dalam tanda kutip miskin atau sengsara, kita sudah siap. Termasuk saya punya kebiasaan sekarang, di mana pun kalau ngantuk ya tidur. Jadi tidak butuh tempat yang nyaman atau kasur. Mau di pinggir kamar, di surau, bahkan di bawah jemuran, saya tidur saja. Itu kebiasaan dulu di pondok," tuturnya.

Menurutnya, kebiasaan hidup bersahaja di pesantren membentuk ketahanan psikologis yang kuat. Hal ini membuat seorang alumnus pesantren memiliki kendali diri yang seimbang dan tidak mudah tergoyahkan oleh fluktuasi keadaan ekonomi maupun sosial.

"Nah, itu menjadikan kita lebih nyaman di dalam menghadapi realita kehidupan. Jadi, ketika diberi kemampuan oleh Allah secara ekonomi, kita tidak sombong karena kita tahu pada saat dulu pernah mengalami kehidupan sengsara. Kita pun tidak kaget saat menghadapi kesulitan, karena sudah biasa dengan kesederhanaan itu," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil menekankan bahwa pembentukan karakter di pesantren tetap relevan di era modern. Menerima kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern tidak lantas mengikis nilai-nilai dasar kepesantrenan. Karakter yang kuat dan pedoman hidup yang memadai justru menjadi kompas bagi santri agar tidak terseret arus negatif perubahan zaman.

​"Pendidikan karakter itulah yang membuat kita selama hidup ini mempunyai arah yang jelas, punya pedoman yang memadai untuk mengarungi kehidupan. Pesantren berbasis pada nilai-nilai keagamaan tanpa menutup diri dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan," tegas Kiai Cholil.

Di sisi lain, menanggapi sorotan publik terhadap beberapa insiden di lingkungan pesantren belakangan ini, Kiai Cholil mengingatkan pentingnya sikap muhasabah (introspeksi diri) dari para pengelola pesantren. Pembentukan karakter yang baik harus ditunjang oleh sistem pengelolaan pesantren yang aman, tertib, dan bebas dari tindakan kekerasan maupun perundungan (bullying).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mendorong agar setiap pesantren memperketat aturan pencegahan dan mitigasi risiko, termasuk membatasi interaksi yang tidak perlu antara santri laki-laki dan perempuan sesuai tuntunan ajaran Islam.

​"Mengelola pesantren adalah mengelola generasi masa depan dengan basis nilai agama. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dan terus melakukan pembenahan. Mitigasi terhadap perundungan dan kekerasan seksual harus dibikin dengan jelas," tegasnya.

Kiai Cholil mengajak media dan masyarakat luas untuk terus mendukung keberadaan pesantren. Menurutnya, rekam jejak pesantren dalam mencetak pemimpin bangsa, mulai dari pejuang kemerdekaan melalui Resolusi Jihad, menteri, hingga presiden, merupakan bukti nyata bahwa karakter yang dicetak dari rahim pesantren mampu memberi kontribusi besar bagi Indonesia.