Depok, MCNID.net-Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Muhammad Cholil Nafis, mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyebarkan setiap informasi yang diterima, meskipun informasi tersebut terbukti benar. Menurutnya, sebuah informasi tidak hanya butuh kebenaran, tetapi juga harus mempertimbangkan kemaslahatan dan dampaknya bagi publik.
Hal tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam acara Peningkatan Literasi Digital Perspektif Islam: Santri Cakap Digital Berakhlak Qurani, Membangun Negeri yang diselenggarakan oleh Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Sabtu (24/10/2026).
“Tidak semua informasi yang datang kita serap. Anggap saja yang masuk itu adalah kayak orang fasik, perlu diverifikasi dulu, divalidasi dulu. Kemudian setelah itu kita berpikir, ini kalau benar, apakah pantas saya sebarkan? Meskipun sudah benar, kalau tidak pantas disebarkan, jangan disebarkan. Ini bagian dari literasi,” tegas Kiai Cholil.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menjelaskan bahwa literasi digital yang bijak tidak cukup berhenti pada kemampuan memeriksa kebenaran data semata. Kiai Cholil menghimbau masyarakat untuk bisa memahami substansi materi serta menimbang manfaat dan mudarat sebelum membagikannya ke media sosial.
Kiai Cholil menilai prinsip ini sangat penting di era digital saat ini, di mana arus informasi sangat deras, marak konten video viral yang belum jelas sumbernya, serta pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Pertama ngerti benar tentang bahannya, materinya, kemudian verifikasi materinya. Kemudian untuk menyikapi, apalagi menyebarkan, dia harus mengetahui dulu tentang kemaslahatannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil mengapresiasi langkah KPRK MUI yang menggelar edukasi literasi digital bagi para santri dan wali santri. Kiai Cholil menekankan bahwa pendidikan literasi digital harus menjangkau ranah keluarga agar orang tua tidak mudah terprovokasi atau memberikan penilaian terburu-buru terhadap informasi yang simpang siur.
Ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini mengajak umat Islam dan kalangan pesantren untuk tidak menghindari teknologi digital, melainkan mengambil peran aktif untuk mengisinya dengan konten-konten yang bermanfaat.
“Karena kita sudah tidak boleh menghindar dari digital, maka harus dihadapi. Harus kita isi digital ini. Algoritma harus kita ambil sebaik-baiknya untuk menyebarkan kebaikan,” kata Kiai Cholil.
Kiai Cholil Nafis Sebut Informasi Benar Belum Tentu Layak Disebarkan ke Publik, Ini Alasannya
📅 25 Oktober 2026✍️ SadamBerita



