Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menyatakan bahwa esensi utama dari dakwah Islam adalah mengajak dan merangkul umat, bukan menghakimi apalagi menyalahkan umat.
Hal tersebut disampaikan Kiai Cholil saat memberikan materi dalam kegiatan Standardisasi Dai MUI Angkatan ke-49 yang berlangsung di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta. Menurutnya, seorang pendakwah (dai) harus mampu menjadi opinion leader yang merangkul semua kalangan, termasuk mereka yang masih melakukan maksiat.
"Dakwah sejatinya adalah mengajak, bukan menghakimi. Kita harus merangkul siapa saja dan membimbing umat agar mau menjalankan ajaran Islam dengan pendekatan yang bijaksana, penuh kasih sayang, dan bertahap," ujar Kiai Cholil.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini juga membedakan antara fungsi fatwa dan dakwah. Fatwa bertugas menjelaskan ketetapan hukum seperti halal dan haram, sedangkan dakwah berperan penting membimbing dan mendampingi umat menuju kemaslahatan hidup.
Di tengah gempuran tren media sosial yang kerap memicu budaya flexing dan hedonisme, Kiai Cholil mengingatkan para dai untuk hadir memberikan teladan nyata tentang kebahagiaan sejati. Menurutnya, ukuran kebahagiaan bukan terletak pada materi semata, melainkan pada kebermaknaan hidup.
Lebih lanjut, Rais Syuriah PBNU ini juga mendorong para dai untuk selalu menampilkan wajah Islam yang moderat (wasathiyah) dengan memahami Alquran dan Hadis secara kontekstual, bukan sekadar tekstual.
"Jangan mencari kesalahan orang lain untuk disalah-salahkan. Jika menemukan kekeliruan, pikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Kita tidak pernah tahu siapa yang nantinya akan memperoleh husnul khatimah," kata Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.



