Jakarta, MCNID.net--Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma'ruf Amin, menyatakan bahwa mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU dalam Muktamar Ke-35 NU mendatang harus benar-benar berlandaskan kejernihan hati nurani. Pemilihan yang menggunakan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) tersebut dilarang keras disusupi oleh kepentingan politik pragmatis maupun transaksi tertentu.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Kiai Ma'ruf saat menghadiri Forum Silaturahmi Para Kiai Sepuh yang berlangsung di Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Forum ini digelar atas dorongan rasa keprihatinan para ulama terhadap munculnya isu-isu tak terpuji jelang pelaksanaan perhelatan tertinggi warga Nahdliyin tersebut.
"Ahwa itu adalah representasi para ulama untuk memilih rais aam yang lahir dari hati nurani. Benar-benar tidak merupakan paket pesanan apalagi transaksi," ujar Wakil Presiden RI periode 2019–2024 tersebut dalam keterangannya.
Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menekankan bahwa sistem Ahwa diciptakan sebagai wadah penghormatan atas kealiman, keteladanan, dan integritas para kiai. Oleh karena itu, Muktamar Ke-35 NU tidak boleh dicederai oleh praktik pengondisian suara, tekanan, maupun intervensi pihak manapun, sehingga marwah jam'iyah tetap terjaga sesuai tradisi dan akhlak keulamaan.
Dalam pertemuan tersebut, para kiai sepuh sepakat menyampaikan seruan moral agar seluruh tahapan Muktamar berjalan secara sejuk, jujur, adil, dan bermartabat.
Hadir dalam pertemuan ini KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Muadz Thohir, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Muhyiddin Ishaq, dan KH Muhibbul Aman Aly.
Hadir pula secara daring KH Said Aqil Siroj, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Anwar Manshur, KH Zuhri Zaini, KH Idris Hamid, KH Nuruzzahri.



