Depok, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah berkecil hati atau putus asa dalam menjalani kehidupan dan memperbaiki diri.


Menurutnya, ukuran kesuksesan dan perubahan karakter seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan hitungan matematika atau kepintaran akal, melainkan oleh pertolongan dan ridha Allah SWT.


Pesan tersebut disampaikan Kiai Cholil saat mengisi kajian Mujahadah Sabtiyah Kitab Mauidhotul Mu'minin di Masjid An Nafisah, Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026).


Dalam ceramahnya, Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah ini menegaskan bahwa akhlak dan nasib seseorang bisa diperbaiki lewat usaha (mujahadah) serta doa yang konsisten. Kiai Cholil mengimbau agar siapapun yang merasa memiliki keterbatasan intelektual atau pernah berada di titik bawah tidak boleh merasa minder.


"Kehidupan itu tidak bisa diukur dengan matematika atau akal semata, tapi dengan pertolongan Allah. Jangan inferior atau minder gara-gara merasa kurang pintar di kelas. Upaya kita hanya sarana, tetapi Allah yang membukakan jalan dan menempatkan kita pada posisi terbaik," ujar Kiai Cholil.


Kiai Cholil kemudian membagikan kisah nyata tentang rekan-rekannya semasa menimba ilmu. Menurutnya, ada orang yang saat menempuh pendidikan sangat cerdas, namun dalam perjalanan hidupnya selalu menemui kendala.


Sebaliknya, ada pula murid yang dahulu dianggap paling lambat memahami pelajaran, namun karena ketekunan, kesederhanaan, dan keikhlasannya, kini justru menjadi rujukan ilmu serta berhasil dalam hidup.


"Ada yang merasa pintar lalu sombong dengan ilmunya, akhirnya mau ke mana-mana kepentok. Tapi ada yang rajin, mau mendengar, dan terus memperbaiki diri, Allah berikan kemudahan dari jalan yang tak disangka-sangka. Kuncinya adalah terus berikhtiar dan menggantungkan diri kepada Allah," tegasnya.


Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini menambahkan, potensi dan cita-cita seseorang, termasuk anak-anak, jangan pernah dipatahkan hanya karena keterbatasan kondisi saat ini. 


"Selagi ada tekad untuk memperbaiki diri, dibarengi dengan kesungguhan belajar dan doa orang tua, pintu pertolongan Allah akan selalu terbuka lebar untuk mengubah takdir seseorang menjadi lebih baik," kata Rais Syuriah PBNU ini.