Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengibaratkan rukun shalat seperti organ vital jantung dan kepala pada tubuh manusia.
Mengingat kedudukannya yang sangat mutlak, ketiadaan rukun dalam shalat secara otomatis membuat ibadah tersebut batal atau tidak sah, sebagaimana manusia yang tidak dapat bertahan hidup tanpa jantung atau kepala.
Wakil Ketua Umum MUI ini mengajak umat Islam untuk memahami struktur anatomi shalat secara utuh, agar tidak hanya sekadar menjalankan gerakan ritual tanpa memahami urgensi setiap komponennya.
"Shalat itu kayak diri kita. Kayak fisik kita. Ada rukunnya, ada sunnahnya. Rukun itu sesuatu yang niscaya, kalau enggak ada rukunnya, maka shalat enggak sah. Sama dengan manusia, harus ada hatinya, jantungnya, ada napasnya, ada kepalanya. Kalau orang enggak ada kepalanya pasti mati," tegas Kiai Cholil, Rabu (16/9/2026).
Kiai Cholil menambahkan bahwa unsur-unsur pokok seperti takbiratul ihram, membaca surah Al-Fatihah, ruku, iktidal, sujud, hingga tasyahud akhir adalah 'organ vital' yang wajib hadir. Tanpa kehadiran komponen-komponen utama ini, ibadah seseorang gugur dan tidak lagi memiliki wujud sebagai shalat di hadapan Allah SWT.
Lebih lanjut, Kiai Cholil membandingkan rukun shalat dengan amalan sunnah, baik sunnah ab'ad maupun sunnah hai'ah. Jika rukun diibaratkan sebagai organ penentu kehidupan, maka amalan sunnah berposisi layaknya anggota tubuh pendukung serta aksesoris yang melengkapi keutuhan fungsi dan keindahan fisik manusia.
Dalam mazhab Syafi'i, amalan sunnah ab'ad seperti tasyahud awal dan doa qunut memiliki kedudukan yang sangat dianjurkan. Apabila seseorang terlewat atau lupa menjalankannya, shalatnya tetap sah namun perlu ditambal menggunakan sujud sahwi sebanyak dua kali sebelum salam.
"Kalau kita lupa tasyahud awal, dua rakaat langsung berdiri, enggak usah duduk lagi. Cuma nanti sebelum salam kita sujud sahwi dua kali," jelasnya.
Kiai Cholil mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjaga keutuhan rukun shalat fardu sebelum mengejar amalan-amalan lainnya. Kiai Cholil mengingatkan memahami anatomi ibadah dengan benar sebagai langkah awal agar shalat yang dikerjakan tidak hanya sah secara hukum fikih, tetapi juga bernilai sempurna di hadapan Allah SWT.



