Jakarta, MCNID.net--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh menyatakan bahwa makna kepahlawanan di era modern telah mengalami pergeseran. Menurutnya, jika dahulu para pahlawan bertaruh jiwa dan raga di medan perang, kini arena pertarungan generasi penerus ada di sektor-sektor strategis seperti pendidikan, ekonomi, hingga ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Prof Niam saat menjadi khatib Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Jumat (14/8/2026), dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam khutbahnya, Prof Niam menyampaikan bahwa setiap zaman memiliki tantangan dan medan perjuangannya sendiri. Oleh karena itu, sosok pahlawan tidak lagi hanya diidentikkan dengan mereka yang memegang senjata di medan tempur.
"Hari ini medan perjuangan kita jauh lebih kompleks. Ada medan perjuangan di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, kebudayaan, bahkan ada medan digital," ujar Prof Niam di hadapan ribuan jamaah Masjid Istiqlal.
Prof Niam merincikan bahwa bentuk kepahlawanan masa kini terwujud melalui kontribusi nyata setiap profesi di tengah masyarakat. Misalnya para guru yang gigih mendidik serta ulama yang berjuang melayani masyarakat dengan ilmu dan keteladanan.
Begitu juga orang tua yang membentuk akhlak anak, petani yang menjaga ketahanan pangan, serta pedagang yang memutar roda ekonomi secara jujur. Selain itu, aparatur negara yang melayani dengan integritas serta tenaga kesehatan yang berjuang menyelamatkan jiwa.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengingatkan agar setiap warga negara tidak hanya menuntut apa yang bisa diberikan oleh negara, tetapi justru berfokus pada manfaat yang bisa disebarkan kepada sesama.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Prof Niam menekankan pentingnya aktualisasi diri dalam mengisi kemerdekaan.
"Tugas kita bukan hanya menikmati warisan kemerdekaan. Tugas kita adalah merawat, mengisi, dan meneruskannya. Jangan sampai kita hanya menikmati hasil perjuangan generasi terdahulu, tetapi tidak menanam sesuatu untuk generasi sesudah kita," tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk memberikan kontribusi terbaik sesuai dengan kapasitas dan profesi masing-masing demi mewujudkan Indonesia yang kuat, maju, dan bermartabat.



