Jakarta, MCNID.net--Suasana Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sabtu (12/9/2026), berlangsung hangat dan penuh canda. 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, membuka ceramahnya dengan cerita singkat dan lucu mengenai pilihan busananya saat hendak berangkat ke markas partai politik tersebut.

Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini menceritakan percakapan singkat dengan istrinya di rumah sebelum berangkat mengisi ceramah dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di DPP PKS. 

"Saya mau berangkat ceramah, lalu saya pakai sarung. Ditanya sama istri: 'Ceramah di mana, Bah?' Saya jawab, 'Ceramah di PKS.' Loh, gak pakai celana di PKS? 'Gak, sarungan aja, biar ketahuan dari kaum sarungan,'" seloroh Kiai Cholil disambut tawa para hadirin.

Kekhawatiran akan salah kostum seketika sirna begitu Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini tiba di lokasi acara.

"Nyampai di lokasi, ternyata banyak yang sarungan. Saya bilang, wah... saya pas ini pakai sarung, ternyata di PKS banyak kaum sarungannya, kalau enggak saya bisa salah kostum," kelakarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil mengajak seluruh elemen bangsa meneladani akhlak Rasulullah SAW untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan di Indonesia.

Pada kegiatan yang mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Inspirasi Membangun Negeri”, Kiai Cholil menyampaikan salah satu keteladanan utama Rasulullah SAW adalah membangun persatuan. Kiai Cholil mencontohkan Piagam Madinah yang menempatkan persatuan masyarakat sebagai pasal pertama. 

“Untuk membangun Republik ke depan tidak ada yang lain selain persatuan. Kalau umat Islam itu bersatu, saya yakin republik ini bisa dijaga dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Kiai Cholil menyebut tiga akhlak sederhana yang dapat diteladani. Akhlak pertama yakni basthul wajhi atau menampilkan wajah ramah. 

Kiai Cholil menerangkan, akhlak ini secara sederhana dimaknai dengan menebar senyum, menyapa antar elemen dan selanjutnya membranding diri menyuarakan kebaikan lebih luas lagi.

"Bagaimana ketersambungan antar ormas dengan partai, bagaimana kita bisa sumringah kalau ketemu bagaimana kita bisa saling senyum, menyapa, dan saling menerima untuk membawa aspirasinya masing-masing," ujarnya. 

"Kita bisa saling membuka diri. Di mana kita bisa berjuang, di mana peluang, di mana kita bisa bergerak bersama, di mana kita bergerak di tempatnya masing-masing. Ini untuk meneladani Rasulullah SAW," lanjut Kiai Cholil.

Akhlak kedua adalah kafful adza yaitu menahan dan mencegah kemudaratan yang dalam perannya sebagai partai politik melalui perjuangan untuk membentuk perundang-undangan. Lalu terakhir adalah badzlun nada yaitu berkorban dan memberikan manfaat bagi orang lain.

"Yang ketiga adalah badzlun nada berkorban untuk orang lain. Fokusnya bukan apa yang bisa kita ambil tapi apa yang bisa kita sumbangkan," ungkapnya.

Peringatan Maulid Nabi ini turut dihadiri Wakil Ketua Majelis Syura PKS Ahmad Syaikhu, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf (AMY), Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) Muslih Abdul Karim, Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Mahkamah Partai PKS Hidayat Nur Wahid, serta sejumlah perwakilan ormas Islam.