Jakarta, MCNID.net--Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi ruang berkhidmat dan berdiskusi bagi puluhan ribu warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Tanah Air. Di luar agenda resmi majelis dan musyawarah, perhelatan akbar ini turut menjadi momen berharganya tradisi bersilaturahmi sekaligus melakukan napak tilas kuliner khas di Kota Santri.
Bagi para muktamirin, peninjau, hingga peziarah yang tengah berkunjung ke Kompleks Pesantren Tebuireng dan Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyempatkan diri melipir ke kawasan Balongbesuk, Kecamatan Diwek, menjadi sebuah agenda wajib.
Jalur utama menuju kompleks makam Sang Guru Bangsa tersebut akrab dijuluki oleh masyarakat lokal sebagai "Gang Kolesterol". Julukan bernuansa humor khas Jawa Timur ini melekat lantaran deretan warung yang menjajakan olahan lodeh kikil sapi gurih dan berlemak di sepanjang ruas jalan tersebut.
Di antara jajaran destinasi kuliner yang berderet di sana, terdapat satu tempat yang senantiasa menjadi magnet utama peziarah dan rombongan Nahdliyin, yakni Warung Abang "Kesukaan Gus Dur". Semerbak aroma gurih santan berpadu rempah nusantara dan gurihnya kikil goreng langsung menyambut setiap pengunjung yang melangkahkan kaki ke warung legendaris ini.
Penyematan nama "Kesukaan Gus Dur" pada warung sederhana ini bukanlah sekadar gimik promosi pemikat pembeli semata. Pengelola warung, Siti Munawaroh, menuturkan bahwa Presiden ke-4 Republik Indonesia tersebut telah menjadi pelanggan setia sejak usaha ini dikelola oleh generasi terdahulu.
Mulanya, bisnis keluarga ini dirintis oleh pasangan Haji Latif dan Hajah Sampurni, sebelum akhirnya diteruskan oleh orang tua Munawaroh, yakni Haji Erman (Cak Man) dan Hajah Siti Qoirumlah. Saat ini, roda pengelolaan usaha dipegang langsung oleh generasi ketiga, yaitu Munawaroh bersama dua saudaranya, Siti Munazilah dan Muhammad Idris.
"Usulan penambahan nama 'Kesukaan Gus Dur' ini berawal dari inisiatif para santri ndalem setelah beliau wafat pada akhir Desember 2009 lalu. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan atas kegemaran almarhum sewaktu hidup," ujar Munawaroh, dikutip dari laman resmi Muktamar, Selasa (25/8/2026).
Inisiatif tersebut kemudian mendapat restu hangat dari pihak keluarga besar Pesantren Tebuireng. Sejak saat itu, Warung Abang kian berlimpah pengunjung yang ingin merasakan hidangan favorit almarhum Waliullah tersebut.
Ada kisah unik dan hangat yang terus dikenang pengelola warung terkait kebiasaan makan Gus Dur sewaktu singgah. Munawaroh menceritakan bahwa cucu pendiri NU tersebut kerap memanjakan lidahnya dengan memesan kikil goreng dipadu lidah sapi, yang disiram kuah lodeh santan pedas gurih khas Jombang.
Menariknya, Gus Dur sering kali melahap sajian kaya rempah tersebut tanpa menggunakan nasi alias digado. Baik sebelum maupun sesudah mengemban amanah sebagai Presiden RI, almarhum hampir tidak pernah absen memboyong rombongan besar penderek atau santri ndalem setiap kali melintas di kawasan Diwek.
Kini, demi menyambut gelombang kedatangan muktamirin dari berbagai pelosok negeri, pihak pengelola menyesuaikan jam operasional warung menjadi lebih awal, yakni mulai pukul 15.00 WIB hingga 24.00 WIB.
Bahkan, guna menyukseskan gelaran Muktamar ke-35 NU, warung dipastikan akan tutup sementara untuk pelayanan umum pada 29 Agustus 2026 mendatang. Keluarga pengelola memilih berfokus penuh di dapur untuk menyiapkan pesanan khusus sebanyak 1.000 porsi kikil demi melayani kebutuhan konsumsi agenda Muktamar NU.
Bagi para peziarah dan muktamirin yang ingin meregangkan otot serta memanjakan lidah usai mengikuti padatnya forum muktamar, menikmati semangkuk lodeh kikil empuk di "Gang Kolesterol" tentu menjadi pengalaman spiritual dan kebudayaan yang melengkapi kehangatan berkumpul di Jombang.



