JAKARTA -- Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU masih sangat dinamis. Kendati sejumlah nama mulai mengemuka, peta dukungan pemilik suara Muktamar masih dapat berubah hingga menjelang forum tertinggi organisasi tersebut.
Pengamat Politik NU dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan, kandidat Ketua Umum PBNU belum dapat dipastikan hanya mengerucut pada beberapa nama. Menurut dia, dinamika dukungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) akan sangat menentukan arah kontestasi.
"Tentu masih dinamis, bahkan sangat mungkin hanya akan mengerucut pada dua nama tergantung dinamika dukungan pemilih suara Muktamar," ujar Adi kepada Republika, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Adi, semakin dekat dengan pelaksanaan Muktamar, dukungan dari pemilik suara akan semakin terlihat. Karena itu, konstelasi pencalonan masih sangat mungkin berubah dalam beberapa hari ke depan.
"Karena apapun, kalau sudah jelang Muktamar dukungan PC dan PW sudah mulai mengerucut. Dugaan saya begitu," katanya.
Sejumlah nama memang telah muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Selain petahana KH Yahya Cholil Staquf, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Yusuf Chudlori, sejumlah tokoh NU lainnya juga disebut dalam dinamika pencalonan.
Nama KH Marsudi Syuhud, Rais Syuriah PBNU KH Cholil Nafis, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), hingga Hery Haryanto Azumi dan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) turut muncul dalam bursa kandidat.
Kemunculan nama-nama tersebut menunjukkan bahwa peta persaingan belum sepenuhnya terkunci. Dukungan dari PCNU dan PWNU sebagai pemilik suara dalam Muktamar menjadi faktor penting yang dapat menentukan siapa saja kandidat yang akhirnya benar-benar maju dalam pemilihan.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Muktamar mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa".
Sebelumnya, intelektual muda NU sekaligus peneliti Insantara, M Wildan, menilai sejumlah kandidat yang muncul memiliki modal politik-organisasi, basis dukungan, jaringan, pengalaman, serta karakter kepemimpinan yang berbeda.
"Mereka masing-masing memiliki basis dukungan, pengalaman, jaringan dan karakter kepemimpinan berbeda. Modal politik-organisasi sekaligus tantangan yang berbeda," ujar Wildan dalam keterangan pers, Jumat (21/8/2026).
Dengan waktu Muktamar yang semakin dekat, pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU diperkirakan akan semakin intens. Peta dukungan yang saat ini terlihat masih dapat berubah seiring konsolidasi dan komunikasi antar-pemilik suara Muktamar.
# Tantangan Arah NU ke Depan
Sebelumnya, data Survei Parameter Politik Indonesia yang dilakukan pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi memberikan gambaran mengenai pandangan warga NU terhadap arah organisasi.
Sebanyak 76,1 persen responden setuju dan sangat setuju jika NU fokus mengurus agama dan umat atau kembali kepada khittah. Sementara 20,1 persen menyatakan tidak setuju.
Sebanyak 65,8 persen warga NU juga setuju dan sangat setuju jika NU menjauhkan diri dari urusan politik praktis. Namun, 29 persen tidak setuju dengan sikap tersebut.
Di sisi lain, ketika ditanyakan mengenai keterlibatan NU dalam politik praktis sekaligus mengurus umat, sebanyak 48,7 persen responden menyatakan setuju dan sangat setuju. Sebanyak 35,6 persen menyatakan tidak setuju.
Temuan itu menjadi konteks penting bagi pertarungan kepemimpinan PBNU. Sebab, figur Ketua Umum PBNU yang terpilih nantinya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan jaringan dan dukungan politik-organisasi, tetapi juga akan menghadapi ekspektasi warga NU mengenai arah organisasi dalam isu keumatan, politik, dan kebangsaan.



