Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Habib Nabiel Al Musawa, mengajak umat Islam untuk meneladani kecerdasan geopolitik dan diplomasi Rasulullah SAW saat menghadapi situasi pelik.
Belajar dari peristiwa bersejarah Perjanjian Hudaibiyah, Habib Nabiel menegaskan bahwa sikap mengalah dalam sebuah kesepakatan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi jitu untuk memenangkan tujuan yang lebih besar.
Pesan penting mengenai taktik kepemimpinan tersebut disampaikannya dalam tausiah pada acara "Cahaya Hati Cahaya Indonesia" bertema “Merawat Iman, Menjaga Umat, Membangun Bangsa”. Acara ini berlangsung khidmat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu (4/7/2026) malam, atas kerja sama Komisi Dakwah MUI dan Majelis Rasulullah SAW.
Di hadapan ribuan jamaah, Pimpinan Majelis Rasulullah SAW ini mengisahkan kembali momen krusial saat Rasulullah SAW bersama para sahabat dihalangi oleh kaum kafir Quraisy untuk memasuki Kota Makkah guna menunaikan ibadah umrah.
Alih-alih memilih jalur konfrontasi fisik atau perang terbuka, Rasulullah SAW justru memilih jalan diplomasi meja perundingan dengan menyepakati Perjanjian Hudaibiyah.
Langkah ini sempat memicu perdebatan di internal kaum Muslim, karena klausul di dalam perjanjian tersebut secara lahiriah tampak sangat timpang dan merugikan sepihak. Bahkan, sahabat sealiber Sayyidina Umar bin Khattab sempat merasa berat hati dan mempertanyakan alasan mengapa kaum Muslim harus mengalah pada tuntutan kaum Quraisy.
Namun, Rasulullah SAW yang bimbing oleh wahyu Allah memiliki visi jangka panjang. Rasul melihat celah strategis bahwa gencatan senjata tersebut akan memberikan ruang aman bagi dakwah Islam untuk masuk ke berbagai lini tanpa sekat peperangan.
"Ternyata setelah itu Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslim. Tahun berikutnya mereka dapat melaksanakan umrah, bahkan kemudian Kota Makkah berhasil dibebaskan (Fathu Makkah)," ujar Habib Nabiel.
Melalui kilas balik sejarah ini, Habib Nabiel menekankan pentingnya bagi umat Islam saat ini untuk memahami sirah nabawiyah secara utuh, bukan tekstual belaka. Menurutnya, kemampuan menahan diri, menurunkan ego, dan mengedepankan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan strategis sering kali menjadi kunci pembuka kemenangan yang hakiki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kendati demikian, Habib Nabiel juga mengingatkan bahwa strategi mengalah ini harus diletakkan dalam koridor penegakan hukum yang proporsional. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 194, ia menjelaskan bahwa Islam tetap memberikan hak bagi umatnya untuk membela diri dan membalas serangan secara setimpal, namun dengan rambu-rambu keadilan yang terukur, bukan atas dasar balas dendam membabi buta.
Ia menambahkan, para ulama terdahulu telah memberikan tuntunan bahwa memaafkan atau mengalah adalah pilihan utama jika hal itu bisa menyadarkan pelaku kezaliman menuju jalan kebaikan. Sebaliknya, jika sikap mengalah tersebut justru disalahartikan dan membuat pelaku semakin berani melakukan kerusakan yang merugikan masyarakat luas, maka hukum wajib ditegakkan tanpa ragu.
Menutup tausiahnya, Habib Nabiel berharap umat Islam di Indonesia mampu mengadopsi keseimbangan karakter yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW; yakni piawai dalam berdiplomasi dengan wajah Islam yang penuh kasih sayang, tetapi tetap kokoh dan tegas dalam menjaga prinsip keadilan demi kemaslahatan bangsa.
"Keseimbangan antara rahmat dan ketegasan merupakan kunci dalam menjaga ketertiban serta kemaslahatan umat dan bangsa," pungkasnya.



