Jakarta, MCNID.net--Bank Indonesia (BI) menilai pembiayaan berbasis syariah memiliki peran yang semakin krusial dalam menopang penguatan ekonomi Indonesia. Sektor ini dipandang bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi opsi strategis utama untuk mengakselerasi investasi dan ekspansi bisnis di sektor riil.
Pejabat Sementara (PJs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa optimalisasi pembiayaan syariah merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Hal tersebut disampaikannya dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah bertajuk ‘Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance’ pada Rabu (12/8/2026).
“Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Destry dalam keterangan resminya, Kamis (13/8/2026).
Destry menjelaskan, agar pembiayaan syariah dapat memberikan dampak nyata terhadap laju perekonomian, diperlukan integrasi yang kuat antara industri keuangan syariah dan rantai pasok industri halal. Selain itu, diperlukan pendalaman pasar keuangan syariah, perluasan kapasitas, serta inovasi instrumen yang dibarengi dengan penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan pemantauan yang ketat.
Untuk mencapai target tersebut, BI mendorong sinergi yang lebih solid antara korporasi, lembaga keuangan, regulator, kementerian, hingga asosiasi industri.
Optimisme terhadap peran pembiayaan syariah ini didukung oleh indikator kinerjanya yang terus menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2026, penyaluran pembiayaan perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 11,43 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga mencapai Rp720 triliun. Sejalan dengan itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,13 persen (yoy) menjadi Rp816 triliun.
Di sektor dunia usaha, rantai pasok halal juga tumbuh sebesar 5,5 persen pada periode yang sama, didampingi oleh nilai outstanding sukuk korporasi yang menyentuh angka sekitar Rp95 triliun.
Dukungan terhadap pernyataan BI juga datang dari dunia usaha dan praktisi perbankan. Kepala Badan Ekonomi Syariah Kadin Indonesia, Titi Khoiriah, menyampaikan bahwa dukungan pembiayaan jangka panjang dengan tenor yang fleksibel sangat dibutuhkan korporasi dalam berekspansi.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) sekaligus Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo, Bob Tyasika Ananta, menilai pendekatan ekosistem rantai pasok akan memudahkan perbankan syariah masuk ke sektor pembiayaan modal kerja korporasi.
Melalui program ‘Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia’, Bank Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor produktif guna memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.



