Jakarta, MCNID.net--PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyatakan komitmennya untuk mentransformasi pandangan masyarakat terhadap logam mulia. Di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergerak, BSI mendorong agar emas tidak lagi sekadar dipandang sebagai instrumen lindung nilai (safe haven). Namun, emas bisa sebagai aset keuangan syariah yang produktif, likuid, dan memiliki nilai tambah jangka panjang. 


Komitmen ini sejalan dengan langkah strategis BSI sebagai salah satu pendiri Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Melalui sinergi bersama para pelaku industri yang tergabung dalam IBMA, BSI mengambil peran sentral dalam memperkuat ekosistem pasar bullion nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.


Direktur Sales and Distribution BSI sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) IBMA, Anton Sukarna, menyatakan bahwa edukasi berkelanjutan menjadi kunci agar potensi besar emas dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh kalangan masyarakat.


"Kami terus mengedukasi masyarakat bahwa emas adalah salah satu investasi syariah yang aman dan memiliki intrinsic value jangka panjang. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, kami sudah menyiapkan beberapa langkah strategis agar emas bisa tetap dijangkau seluruh kalangan," ujar Anton dikutip dari laman resmi BSI, Selasa (21/7/2026). 


Sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air, BSI mewujudkan komitmen tersebut melalui penyediaan ekosistem layanan emas yang komprehensif, mulai dari perdagangan, titipan, hingga simpanan emas.


Hingga Mei 2026, kepercayaan publik terhadap layanan emas BSI tercatat sangat tinggi dengan total pengelolaan mencapai lebih dari 23 ton emas. Untuk memastikan emas menjadi aset yang cair (liquid) dan mudah diakses, BSI menghadirkan kemudahan transaksi melalui aplikasi mobile banking BYOND BSI.


Melalui platform digital ini, masyarakat dapat mulai berinvestasi emas dengan gramasi kecil mulai dari Rp50 ribu-an kapan saja dan dari mana saja. Selain itu, BSI juga tengah mempersiapkan fitur edukasi serta layanan tabungan emas rutin guna mendukung masyarakat membangun aset secara disiplin.


Transformasi ini sejalan dengan misi besar yang diusung oleh IBMA. Ketua Umum IBMA sekaligus Direktur Pemasaran, Penjualan & Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), Selfie Dewiyanti, menyampaikan bahwa kehadiran asosiasi ini membawa angin segar bagi perubahan paradigma industri keuangan nasional.


"Kami ingin mengubah paradigma masyarakat dan industri terhadap emas, dari yang tadinya hanya untuk melindungi nilai aset, menjadi aset keuangan yang produktif, likuid, dan aktif," tegas Selfie.


Dengan kolaborasi agresif antara BSI, Pegadaian, serta para pemangku kepentingan lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Untung Bersama Sejahtera, ICDX, hingga PT Hartadinata Abadi Tbk, Indonesia kini berada di jalur yang tepat. 


Sinergi ini tidak hanya mempercepat proses hilirisasi domestik, tetapi juga memastikan Indonesia bertransformasi dari sekadar negara penambang menjadi penguasa pasar emasnya sendiri di tingkat regional.