Depok, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan jiwa dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. 

Menurutnya, indikator utama dari seseorang yang memiliki jiwa yang sehat adalah hadirnya rasa senang dan bahagia ketika mampu memberi serta membantu sesama tanpa mengharapkan balasan.

Pesan penuh hikmah tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam ceramahnya pada pengajian Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Maudzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).

Wakil Ketua Umum MUI ini menyoroti kontras sosial yang terjadi di tengah masyarakat modern, di mana kebahagiaan sering kali disalahartikan dan dicari pada tempat yang merusak. Kiai Cholil membandingkan kondisi batin orang yang gemar berbagi dengan orang yang terjebak dalam penyakit jiwa akibat kecanduan maksiat, seperti perjudian.

"Coba kita lihat penjudi yang bangkrut, yang kalah. Orang sudah kalah, bangkrut, tapi di dalam dirinya dipengaruhi rasa senang. Kalah judi kok bisa nikmat? Ini kalau sudah kena penyakit," ujar Kiai Cholil. 

Ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini menerangkan bahwa jiwa yang sakit akan membuat orientasi kebahagiaan seseorang menjadi terbalik. 

Menurutnya, orang yang jiwanya terganggu merasa menderita dan berat saat harus menyumbang masjid, membantu biaya sekolah anak tidak mampu, atau menyalurkan beras untuk warga miskin. Sebaliknya, mereka justru merasa puas dan mendapatkan dorongan emosi dari perbuatan yang menghancurkan masa depan serta rumah tangga mereka sendiri.

Kiai Cholil menegaskan bahwa kebahagiaan sejati (nailus-sa'ādah) tidak akan pernah bisa ditemukan dalam perbuatan maksiat atau dorongan egoistis. Rasa bahagia yang hakiki lahir dari jiwa yang bersih, yang menemukan kenikmatan dalam ketaatan dan kebermanfaatan bagi orang lain.

"Kalau jiwanya sehat, memberi itu menyenangkan. Awalnya memberi itu berat, tapi latihan, latihan, latihan, menjadi nyaman memberi pada orang. Ini kalau kita berbagi, kita menyenangkan orang lain dan menyenangkan diri sendiri kalau hatinya luas," ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengingatkan jamaah untuk menjauhi mental peminta-minta dan senantiasa memelihara sifat 'iffah, yakni menahan diri demi menjaga harga diri dan kehormatan. CEO Amanah Zakat ini menekankan bahwa memiliki mental kaya dan jiwa yang pemurah jauh lebih penting ketimbang sekadar memiliki kekayaan materi semata.

Menurutnya, kedermawanan dan kebiasaan berbagi tidak muncul begitu saja, melainkan harus dibentuk melalui proses latihan yang konsisten (mujahadah wa riyadhah). Ketika memberi sudah menjadi karakter dan kebiasaan yang melekat, seseorang tidak lagi merasakan keterpaksaan, melainkan kepuasan batin yang menenangkan jiwa.

"Perlu dipaksa diri kita sendiri sebelum dipaksa oleh orang lain. Selamanya menikmati kebaikan tersebut, hingga memberi bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa yang mendatangkan kebahagiaan hakiki," kata Kiai Cholil.