Jakarta, MCNID.net— Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan merupakan hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Dalam sebagian tradisi masyarakat, hari tersebut sejak masa Jahiliah hingga sekarang kerap dikaitkan dengan datangnya musibah, malapetaka, atau kesialan.
Anggapan semacam ini perlu diluruskan. Sebagian kalangan masih meyakini bahwa bulan Safar identik dengan datangnya kesialan, bahkan ada yang menghindari bepergian pada bulan itu. Padahal, keyakinan yang mengaitkan suatu waktu tertentu dengan datangnya keburukan secara pasti termasuk thiyarah yang dilarang dalam Islam.
Kendati demikian, sejumlah ulama tasawuf menganjurkan umat Islam agar memperbanyak doa dan amal kebaikan ketika memasuki bulan Safar, termasuk pada Rabu terakhir bulan tersebut. Amalan ini bukan karena meyakini Safar sebagai bulan pembawa sial, melainkan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya menuturkan:
أَنَّ الْأَسْبَابَ الْمَكْرُوهَةَ إِذَا وُجِدَتْ فَإِنَّ الْمَشْرُوعَ الِاشْتِغَالُ بِمَا يُرْجَى بِهِ دَفْعُ الْعَذَابِ الْمَخُوفِ مِنْهَا. مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ وَالدُّعَاءِ، وَتَحْقِيقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةِ بِهِ، فَإِنَّ هَذِهِ الْأَسْبَابَ كُلَّهَا مُقْتَضِيَاتٌ لَا مُوجِبَاتٌ وَلَهَا مَوَانِعٌ تَمْنَعُهَا. فَأَعْمَالُ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَالدُّعَاءُ وَالتَّوَكُّلُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُسْتَدْفَعُ بِهِ
“Apabila terdapat sebab-sebab yang dikhawatirkan dapat mendatangkan keburukan, maka yang disyariatkan adalah menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang diharapkan dapat menolak azab atau bahaya tersebut, seperti melakukan berbagai ketaatan, berdoa, menyempurnakan tawakal kepada Allah, dan meneguhkan kepercayaan kepada-Nya.
Sebab-sebab itu pada hakikatnya hanyalah faktor yang berpotensi menimbulkan suatu akibat, bukan sesuatu yang pasti mewujudkannya, karena masih terdapat berbagai penghalang yang dapat mencegah terjadinya akibat tersebut. Oleh karena itu, amal kebajikan, ketakwaan, doa, dan tawakal termasuk sarana terbesar guna menolak berbagai keburukan.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 132)
Lebih lanjut, Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur secara khusus menganjurkan membaca doa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai salah satu bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai marabahaya dan bala. Simak penjelasan berikut:
فَمَنْ أَرَادَ السَّلَامَةَ وَالْحِفْظَ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَدْعُ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنْ صَفَرٍ وَكَذَا فِي آخِرِ أَرْبِعَاءِ مِنْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَمَنْ دَعَا بِهِ دَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ شَرَّ ذَلِكَ الْبَلَاءِ
“Barang siapa menghendaki keselamatan dan perlindungan dari hal ini, hendaknya ia berdoa pada hari pertama bulan Safar, demikian pula pada hari Rabu terakhir bulan Safar, dengan doa ini. Barang siapa membacanya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolak darinya keburukan bala tersebut.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91)
Berikut empat bacaan doa yang dapat diamalkan pada Rabu Wekasan lengkap dengan teks Arab, latin, arti, serta keutamaannya berdasarkan keterangan para ulama.
Doa Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki
Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki menganjurkan membaca doa pada hari pertama bulan Safar dan Rabu terakhir di bulan tersebut. Menurutnya, doa ini menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keselamatan serta perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan dan bala. Adapun lafaz doanya sebagai berikut:
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Wa ṣallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma’īn. A’ūdzu billāhi min syarri hādzaz-zamāni wa ahlihi, wa a’ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu qalbī min syarri hādzihis-sanati, wa qinī syarra mā qaḍaita fīhā, waṣrif ‘annī syarra syahri Ṣafar, yā Karīman-naẓari, wakhtim lī fī hādzasy-syahri wad-dahri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa’ādati lī wa liwālidayya wa aulādī wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī’il-muslimīn. Wa ṣallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan orang-orang yang hidup di dalamnya. Aku juga berlindung dengan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan kekuasaan-Mu, agar Engkau melindungi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, serta siapa pun yang tercakup dalam kasih sayang hatiku dari keburukan tahun ini.
Lindungilah aku dari keburukan segala sesuatu yang telah Engkau tetapkan di dalamnya, dan jauhkanlah dariku keburukan bulan Safar, wahai Dzat Yang Mahamulia perhatian-Nya. Akhirilah bulan ini dan perjalanan usiaku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang tercakup dalam kasih sayang hatiku, serta seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91-92)
Doa di atas memuat permohonan perlindungan yang cukup luas, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga kedua orang tua, anak, keluarga, orang-orang tercinta, dan seluruh kaum Muslimin. Di dalamnya juga terdapat permohonan agar Allah mengakhiri perjalanan waktu seseorang dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan.
Doa Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi
Doa berikutnya dinukil dari Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi al-Ghunaimi asy-Syafi’i (wafat 1151 H). Kandungan doanya berisi permohonan agar Allah mencukupi segala urusan, memberikan rahmat, serta melindungi seseorang dari berbagai keburukan maupun bencana yang terjadi pada hari itu. Adapun lafaz doanya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ. اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضَّلُ، يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ؛ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ، يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma yā Syadīdal-quwā, wa yā Syadīdal-miḥāl, yā ‘Azīzu dzallat li’izzatika jamī’u khalqika, ikfinī min jamī’i khalqika, yā Muḥsinu yā Mujammilu, yā Mutafaḍḍilu, yā Mun’imu yā Mukrimu, yā man lā ilāha illā Anta, irḥamnī biraḥmatika yā Arḥamar-rāḥimīn. Allāhumma bisirril-Ḥasani wa akhīhi, wa jaddihi wa abīhi, wa ummihi wa banīhi, ikfinī syarra hādzal-yaumi wa mā yanzilu fīhi, yā Kāfiyal-muhimmāt, yā Dāfi’ al-baliyyāt, fasayakfīkahumullāhu wa Huwas-Samī’ul-‘Alīm, wa ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm, wa ṣallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat Yang Mahakuat, wahai Dzat Yang Mahadahsyat kekuasaan-Nya. Wahai Dzat Yang Mahaperkasa, seluruh makhluk-Mu tunduk di hadapan keperkasaan-Mu. Cukupkanlah aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, Yang Mahaindah, Yang Maha Memberi Karunia, Yang Maha Memberi Nikmat, dan Yang Maha Memuliakan. Wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, serta anak-anaknya, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang turun atau terjadi di dalamnya.
Wahai Dzat Yang Mencukupi segala urusan penting, wahai Dzat Yang Menolak segala bencana. Maka, Allah akan mencukupkanmu (dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Mujarobat ad-Dairabi al-Kabir [Beirut: al-Maktabah as-Tsaqafiyyah], h. 79)
Keutamaan yang terkandung dalam doa ini tampak pada permohonan perlindungan dari keburukan, pencukupan dalam berbagai urusan, serta peneguhan sikap tawakal kepada Allah. Hal demikian juga tergambar dari bacaan hasbunallahu wa ni’mal-wakil, yakni pengakuan bahwa Allah merupakan sebaik-baik tempat berserah dan berlindung.
Doa Syekh Ahmad bin Ali al-Buni
Doa ketiga dikutip dari Syekh Ahmad bin Ali al-Buni al-Maliki (wafat 622 H). Doa ini berisi permohonan kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang indah dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna supaya diberikan penjagaan serta keselamatan dari berbagai cobaan. Adapun lafaznya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ. اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍ أَوْ غَمٍ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Allāhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā, wa bi-kalimātikat-tāmmāti, wa biḥurmati Nabiyyika Sayyidinā Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam an taḥfaẓanī wa an tu’āfiyanī min balā’ika, yā Dāfi‘al-balāyā, yā Mufarrijal-hammi, wa yā Kāsyifal-ghammi, iksyif ‘annī mā kutiba ‘alayya fī hādzihis-sanati min hammin au ghammin, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr, wa ṣallallāhu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallama taslīman.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW, semoga Engkau senantiasa menjagaku dan menyelamatkanku dari segala cobaan-Mu. Wahai Dzat Yang Menolak segala bencana, wahai Dzat Yang Menghilangkan segala kesusahan, dan wahai Dzat Yang Menyingkap segala kesedihan, singkirkanlah dariku segala kesusahan dan kesedihan yang telah ditetapkan menimpaku pada tahun ini.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97)
Doa ini secara khusus mengandung permohonan agar Allah memberikan penjagaan, kesehatan, dan keselamatan dari berbagai cobaan. Di samping itu, terdapat permohonan supaya segala kesusahan dan kesedihan yang mungkin terjadi disingkirkan dengan kekuasaan Allah.
Doa yang Diamalkan Sebagian Kalangan Salihin
Selain tiga doa di atas, sebagian orang-orang saleh juga menganjurkan sebuah doa yang diawali dengan bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Doa ini berisikan permohonan keselamatan dari berbagai ketakutan dan bencana, terpenuhinya kebutuhan, pengampunan keburukan, serta tercapainya kebaikan di dunia dan setelah kematian. Adapun lafaznya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ. اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammadin ṣalātan tunjīnā bihā min jamī’il-ahwāli wal-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamī’al-ḥājāti, wa tuṭahhirunā bihā min jamī’is-sayyi’āti, wa tarfa’unā bihā a’lad-darajāti, wa tuballighunā bihā aqṣal-ghāyāti, min jamī’il-khairāti fil-ḥayāti wa ba’dal-mamāti. Allāhummaṣrif ‘annā syarra mā yanzilu minas-samā’i, wa mā yakhruju minal-arḍi, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr, wa ṣallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan bencana, memenuhi seluruh kebutuhan kami, menyucikan kami dari segala keburukan, mengangkat kami ke derajat yang paling tinggi, serta menyampaikan kami kepada puncak segala kebaikan, baik dalam kehidupan maupun setelah kematian.
Ya Allah, jauhkanlah dari kami keburukan segala sesuatu yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97-98)
Kandungan doa di atas mencakup permohonan yang cukup luas, mulai dari keselamatan dari bencana, terpenuhinya berbagai kebutuhan, terbebas dari keburukan, hingga memperoleh kebaikan dalam kehidupan dan setelah kematian.
Dengan demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa membaca doa pada Rabu Wekasan hendaknya ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, serta permohonan perlindungan kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari Rabu terakhir bulan Safar secara pasti membawa kesialan.
Sebagaimana keterangan yang telah diuraikan sebelumnya, tatkala seorang Muslim mengkhawatirkan datangnya suatu keburukan, yang dianjurkan ialah memperbanyak ketaatan, doa, ketakwaan, dan tawakal kepada Allah. Lantaran, hanya Allah-lah yang menentukan datang atau terhindarnya seseorang dari suatu musibah.
Jadi, empat doa di atas dapat diamalkan sebagai bagian dari munajat kepada Allah pada Rabu Wekasan maupun waktu lainnya, dengan tetap meneguhkan keyakinan bahwa keselamatan, perlindungan, dan segala kebaikan semata-mata berada dalam kekuasaan Allah.



